israel-slider4LiputanIslam.com — Media lokal Israel baru-baru ini melaporkan bahwa delegasi Zionis tingkat tinggi mengunjungi Riyadh beberapa minggu yang lalu. Namun, mereka tidak diberikan wewenang untuk berbicara tentang isi dan tujuan pertemuan tersebut.

Dan tentu saja, pertemuan itu bukanlah kali pertama. Media-media kerap memberitakan bahwa ada pertemuan rahasia antara para pejabat di kerajaan Teluk dan juga pejabat Saudi dengan perwakilan dari Israel. Hal ini membuktikan ada hubungan rahasia yang terjalin antara rezim Teluk, Al Saud dan entitas Israel.

Dalam pidatonya, Sekretaris Jenderal Hizbullah Sayyid Hasan Nasrallah menyebut bahwa orang-orang mencoba untuk menggambarkan bahwa beberapa pihak mencoba menggambarkan entitas Zionis sebagai “pembela Sunni”. Mereka mengeksploitasi keadaan dan perkembangan, mencoba mengubah hubungan yang awalnya “di bawah meja” kini di bawa “ke atas meja”.

“…bagaimana orang-orang Sunni yang waras bisa menerima ketika entitas Zionis menunjukkan diri sebagai teman, sekutu, dan pelindung. Penipuan macam apa yang telah dilakukan oleh media Arab dan penguasa Arab yang bodoh dan jahat? Bagaimana kita bisa menerima entitas Zionis sebagai teman setelah dosa-dosa yang telah mereka lakukan sejauh ini,” cerca Nasrallah.

Jika hubungan yang terjalin ini memang demikian adanya, tentu ada tanda tanya besar setelahnya. Sejauh mana hubungan Arab-Israel ini telah terjalin? Apa penyebabnya? Apakah masuk akal ketika penguasa Arab bersahabat dengan musuh utama bangsa Arab dan kaum Muslimin? Apakah mereka lupa atau pura-pura lupa bahwa Israel bertanggung jawab atas pembantaian orang-orang Arab di Palestina, Mesir, Lebanon, Yordania, dan Suriah? Apakah rezim Teluk telah menutup mata terhadap perjuangan rakyat Palestina yang seharusnya menjadi isu sentral bagi seluruh bangsa?

Saudi Tidak Menyangkal Pertemuan Dengan Zionis Israel

Penulis dan analis politik Lebanon Talal Atrissi, sebagaimana dilansir Al Manar, 4 Maret 2016 mengatakan bahwa pertemuan antara Saudi dan Israel telah dibuka sejak bertahun-tahun yang lalu, dan hubungan tersebut semakin berkembang setelah Saudi mengumumkan bahwa musuh di kawasan regional adalah Iran. Fokus permusuhan terhadap Iran merupakan alasan mengapa Israel tidak menganggap Saudi sebagai musuh ataupun biang kerok masalah di Timur Tengah.

“Mengingat Iran telah dijadikan musuh oleh Saudi, sebagaimana Israel juga menganggap Iran sebagai musuh, maka mereka mendirikan persekutuan yang disebut “Alliance of the Affected Parties“, yang beranggotakan Saudi, negara-negara Teluk dan Israel, yang bertujuan untuk menghadapi musuh bersama, yaitu Iran. Semua bocoran tentang pertemuan militer yang dilakukan oleh Israel memang memiliki tujuan, termasuk memicu/ menghasut masyarakat di negaranya bahwa hubungan ini bukanlah hubungan yang baru. Pada akhirnya, situasi ini menegaskan siapa sebenarnya Saudi yang selama ini selalu mengklaim menjaga kesucian Arab dan Muslim.”

Atrissi menyoroti bahwa Sayyed Nasrallah telah memperingatkan kaum Sunni di seluruh dunia agar melawan kebohongan Israel, dan menyebut bahwa propaganda aliansi dengan Israel untuk melindungi Sunni adalah hal yang tidak masuk akal dan harus digagalkan, mengingat korban yang telah tewas dibunuh Israel adalah orang-orang Sunni. Rezim Teluk sama sekali tidak pedulu terhadap Palestina dan rakyatnya.

“Yang terpenting bagi Saudi adalah melawan Iran,” jelas Atrissi.

Mengenai posisi masyarakat Arab, khususnya di Mesir, Atrissi menyatakan bahwa orang-orang Arab dan Muslim tidak menerima normalisasi dengan Israel. Bukti hidup hari ini adalah orang-orang Mesir, yang masih menentang normalisasi dengan Israel meskipun Mesir telah menandatangani perjanjian David Camp.

“Beberapa hari yang lalu, sepatu dilemparkan ke seorang anggota Parlemen di Mesir karena menerima Duta Besar Israel. Hal ini menegaskan ketabahan rakyat Mesir dalam menghadapi Israel, dan menolak normalisasi,” tambah Atrissi.

Seharusnya penguasa Saudi merasa malu karena mereka bertindak berlawanan dengan pernyataan mereka selama ini. Mereka selalu mengklaim diri sebagai pelopor “kesucian” dalam menjalankan agama, juga penjaga dua kota suci Mekkah dan Madinah, namun Channel 10 Israel melaporkan bahwa pemimpin Arab selama mengadakan pertemuan dengan Israel menyebut bahwa mereka “tidak peduli terhadap Palestina dan tidak malu berhubungan dengan Israel, namun mereka menekankan tentang perlunya menjaga rahasia, agar tetap aman dalam tempat yang tertutup, namun mereka menginginkan Israel berada di sisi mereka. (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL