putin militer rusiaLiputanIslam.com — Tidak ada situasi global yang lebih genting daripada situasi dimana 2 kekuatan terkuat di dunia saling bermusuhan. Dunia sudah sering dilanda peperangan-peperangan besar karena persaingan 2 negara kuat: Yunani melawan Persia, Romawi melawan Chartago, Byzantium melawan Persia, Inggris melawan Perancis, Allies melawan Axis, hingga NATO melawan Pakta Warsawa.

Dan kini situasi genting itu tengah melanda dunia ini Rusia menetapkan AS dan NATO sebagai ancaman dan musuh. Doktrin militer terbaru Rusia telah ditandatangani Presiden Vladimir Putin hari Jumat lalu (26/12) menanggapi perkembangan kekuatan NATO di perbatasan Rusia akhir-akhir ini, termasuk dengan pembentukan pasukan khusus pemukul gerak cepat NATO di Eropa Timur.

Doktrin militer terbaru Rusia tetap menempatkan kekuatannya sebagai kekuatan pertahanan dan hanya akan digunakannya sebagai pilihan terakhir terhadap suatu konflik. Hal yang sama juga berlaku terhadap kakuasan nuklir Rusia yang tujuan utamanya adalah untuk “menggentarkan lawan” sehingga berfikir ulang untuk menyerang Rusia.

Namun, yang menarik dalam doktrin baru tersebut adalah disebutkannya ekspansi dan peningkatan kekuatan NATO di Eropa timur yang perbatasan dengan Rusia serta perubahan NATO menjadi “fungsi-fungsi global yang diketahui telah banyak melanggar hukum internasional”

Dalam doktrin itu disebutkan sejumlah ancaman militer asing: “Pembentukan dan pengerahan sistem-sistem rudal anti-balistik strategis global yang mengancam kestabilan keseimbangan kakuatan rudal nuklir, implementasi dari konsep “pasukan pemukul gerak cepat”, rencana penggelaran senjata-senjata luar angkasa dan penggelaran senjata-senjata presisi strategis konvensional.” Semuanya itu merujuk pada AS dan NATO.

Perubahan doktrin itu tidak terjadi begitu saja. Sejak runtuhnya Uni Sovyet di akhir dekade 1980-an, NATO, yang tulang punggung utamanya adalah AS, secara agresif melakukan ekspansi ke wilayah-wilayah bekas sekutu Rusia di Eropa Timur, mengoyak-koyak kesepakatan dengan pemimpin terakhir Uni Sovyet Michael Gorbachev untuk tidak mendekati perbatasan Rusia. Satu demi satu negara-negara bekas sekutu Rusia anggota Pakta Warsawa, berubah menjadi anggota NATO atau setidaknya sekutu negara-negara barat.

Cara-cara kasar juga dilakukan AS dan NATO untuk melemahkan Rusia. Revolusi-revolusi “warna” di beberapa negara bekas Uni Sovyet dilancarkan, hingga upaya aneksasi wilayah Rusia dengan menggunakan kekerasan pun dilakukan, seperti ketika Georgia yang didukung AS dan NATO menyerang wilayah Ossetia Selatan tahun 2008. Dan terakhir tentu saja adalah kudeta terhadap pemerintahan yang shah di Ukraina awal tahun ini.

Namun pelanggaran paling besar AS dan NATO dalam konteks hubungan antar negara berdaulat adalah sanksi-sanksi ekonomi yang diterapkan mereka terhadap Rusia, sama sebagaimana sanksi yang mereka terapkan terhadap Iran. Karena, pada dasarnya sebuah sanksi ekonomi yang ditujukan kepada negara lain merupakan sebuah tindakan perang.

Apa yang dilakukan Rusia dengan menganeksasi Krimea dan mendukung pemberontakan di Ukraina timur adalah sangat tidak sebanding dengan campur tangan AS dan NATO di Ukraina. Karena apa yang dilakukan Rusia hanyalah sekedar mempertahankan pengaruhnya di negara-negara yang secara historis-kultural adalah negara-negara Rusia. Bila terhadap negara-negara itu saja Rusia gagal memberikan perlindungan, maka secara praktis Rusia telah runtuh.

Sebaliknya, yang dilakukan AS di Ukraina adalah bentuk campur tangan yang sangat vulgar, seperti diperlihatkan dengan kehadiran Dubes AS dan Asisten Menlu AS di tengah-tengah aksi demonstrasi menentang pemerintahan Presiden Victor Yanukovych awal tahun lalu.

Rusia adalah negara yang kekuatan militernya seimbang, kalau tidak tidak dikatakan lebih kuat dari AS. Rusia memiliki hampir 3 juta tentara reguler dan cadangan, 22.000 tank tempur utama (AS hanya 8.725), dan 8.500 hululedak nuklir (AS hanya 7.700). Memprovokasi Rusia untuk berperang berarti mengundang kehancuran bagi negara itu sendiri, termasuk AS dan NATO. Maka menjadi pertanyaan besar, mengapa AS dan NATO melakukan hal itu kepada Rusia.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL