donetsk-airport-military-offensiveMoskow, LiputanIslam.com — Rusia menyerukan penghentian segera kekerasan di timur Ukraina setelah puluhan orang tewas dalam pertempuran antara pasukan pemerintah dan pemberontak pro-Moskow di bandara Donetsk.

Presiden Rusia Vladimir Putin, hari Selasa (27/5), masih dengan nada keras setelah terpilihnya presiden baru Ukraina Petro Poroshenko, kembali menuduh Kiev melakukan operasi pembalasan di wilayah timur negara itu.

Dalam sebuah perbincangan dengan Perdana Menteri Italia Matteo Renzi, Putin “menggarisbawahi pentingnya mengakhiri dengan segera operasi di wilayah tenggara dan dilakukannya dialog perdamaian antara Kiev dan perwakilan wilayah (kelompok separatis Ukraina timur),” kata Kremlin dalam sebuah pernyataan.

Menteri Luar Negeri Sergei Lavrov juga menyerukan penghentian pertempuran, dan menuduh Kiev menggunakan kekuatan militer melawan warga sipil.

“Tugas nomor satu bagi otoritas Kiev dan ujian untuk ketahanan mereka… adalah segera mengakhiri penggunaan militer melawan publik dan mengakhiri setiap kekerasan dari semua pihak,” kata Lavrov di Moskow dalam jumpa pers bersama Menlu Turki Ahmet Davutoglu, kemarin (27/5).

Lavrov mengatakan dalam waktu dekat ini tidak ada rencana pemimpin baru Ukraina untuk mengunjungi Moskow dan melakukan pembicaraan terkait krisis berkepanjangan ini.

“Pertanyaan mengenai kunjungan Poroshenko ke Rusia tidak dipertimbangkan dan tidak didiskusikan melalui saluran diplomatik maupun saluran lainnya,” kata Lavrov.

Namun ia mengulangi janji bahwa Moskow siap untuk bekerja sama dengan Poroshenko.

“Kami harap ia akan bertindak atas kepentingan semua rakyat Ukraina. Jika itu yang terjadi ia akan melihat kita sebagai rekan yang serius dan bisa diandalkan,” kata Lavrov.

“Kami ingin mengakhiri krisis di Ukraina dan bekerja sama dengan semua yang menginginkan hal yang sama.”

PM Ukraina Tolak Berunding Langsung

Sementara itu Perdana Menteri Ukraina mengatakakan bahwa Kiev tidak cukup mempercayai Rusia dalam membuka pembicaraan langsung untuk mengakhiri pemberontakan di bagian timur negara bekas bagian Uni Soviet itu.

“Pada situasi saat ini, negosiasi bilateral tanpa kehadiran Amerika Serikat dan Uni Eropa adalah mustahil,” kata Perdana Menteri Arseniy Yatsenyuk dalam rapat kabinet sehari setelah milyuner pro Barat Petro Poroshenko dinyatakan sebagai pemenang Pemilihan Presiden Ukraina.

“Jika Anda duduk semeja hanya dengan mereka, maka mereka pasti akan mencurangi Anda,” kata Yatsenyuk dalam pidato televisi.

Poroshenko telah menyatakan Senin kemarin bahwa dia akan menyambut kesempatan untuk bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin dan pembicaraan akan dijadwalkan berlangsung pertengahan bulan depan.

Yatsenyuk menjadi perdana menteri menyusul penggulingan Presiden Ukraina pro Rusia Februari lalu. Kepemimpinan Yatsenyuk tak pernah diakui Moskow.

Kedua negara bertetangga itu menyelenggarkan pembicaraan di bawah mediasi Uni Eropda dan AS di Jenewa pada bulan April yang menghasilkan kesepakatan untuk berupaya mengakhiri pemberontakan yang dilanggar baik oleh Rusia maupun Ukraina dalam jangka beberapa hari, demikian lapor AFP.(ca/ant)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL