erdogan-putinMoskow, LiputanIslam.com — Rusia memperluas sanksi ekonomi kepada Turki terkait dengan insiden penembakan pesawat tempur Rusia oleh Turki bulan November lalu.

Menurut pengumuman pemerintah Rusia seperti termuat di situs resmi, perusahaan-perusahaan Turki kini dilarang melakukan pekerjaan-pekerjaan di bidang konstruksi bangunan, arsitektur dan disain di Rusia. Larangan itu termasuk juga berlaku di sektor perhotelan dan traveling serta sektor kehutanan dan perkayuan.

“Seperti diketahui, langkah-langkah ekonomi khusus terhadap Republik Turki telah disetujui,” kata Perdana Menteri Rusia Dmitry Medvedev

dalam rapat pemerintah hari Rabu (30/12), seperti dilaporkan Press TV.

Medvedev menyebutkan sejumlah sanksi ekonomi terhadap Turki yang mulai berlaku pada 1 Januari 2016. Di antaranya adalah larangan impor sejumlah produk makanan dan pertanian, penghentian ‘bebas visa’ bagi warga Turki, dan larangan mempekerjakan warga Turki.

Namun terhadap kontrak-kontrak yang telah ditandatangani sebelum 1 Januari 2016, ketentuan-ketentuan itu tidak berlaku. Sanksi tersebut juga tidak berlaku bagi 53 perusahaan Turki yang kini tengah mengerjakan sejumlah proyek konstruksi, industri otomotif, material produksi dan konstruksi, ‘polymeric tubes’, dan lain-lain.

Tuntut Penembak Pilot Rusia Ditangkap
Sementara itu pada hari Rabu (30/12), pemerintah Rusia juga mendesak pemerintah Turki untuk menangkap penembak pilot Rusia yang jatuh oleh serangan pesawat Turki tanggal 24 November lalu. Pilot tersebut tewas ditembak saat hendak mendarat dengan parasut oleh militan pemberontak Suriah dukungan Turki. Namun rekannya, seorang co-pilot, berhasil diselamatkan oleh pasukan khusus Suriah dan Hizbollah.

“Kami menuntut pemerintah Turki untuk melakukan langkah cepat terhadap Alparslan Celik dan teman-temannya dan membawa mereka ke pengadilan atas tindakana pembunuhan terhadap pilot Rusia,” kata Jubir Kemenlu Rusia Maria Zakharova, Rabu.

Desakan itu dikeluarkan setelah Celik, warga Turki, mengadakan wawancara dengan media Turki ‘Hurriyet’ yang dipublis tanggal 27 Desember, dimana ia mengaku telah menembak mati pilot Rusia, dan menyatakan tidak menyesal dengan tindakan tersebut, meski hal itu melanggar konvensi internasional dimana seorang yang tengah turun dengan parasut tidak boleh ditembak.

Zakharova juga mengecam media Turki yang menyiarkan wawancara tersebut, menyebutnya sebagai pendukung terorisme dan penyebar kebencian terhadap Rusia.

Pada hari yang sama, Kemenhan Rusia mengumumkan telah berhasil menewaskan sejumlah pemimpin kelompok ISIS di Raqqah, Suriah. Pesawat-pesawat tempur Rusia berhasil membom tempat pertemuan mereka yang diperoleh informasinya dua hari sebelumnya melalui operasi inteligen.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL