mh17Moskow, LiputanIslam.com — Menlu Rusia Sergey Lavrov mengecam laporan kantor berita Inggris ‘Reuters’ tentang kecelakaan pesawat Malaysia Airlines MH17 baru-baru ini, sebagai upaya “pengaburan fakta” yang dibuat “berdasarkan maksud-maksud jahat”.

Sebagaimana dilansir Russia Today, kecaman tersebut disampaikan Lavrov terkait laporan Reuters minggu lalu berjudul “new evidence on the downing of the Malaysian plane over Ukraine” dimana ditampilkan beberapa orang ‘saksi mata’ yang mengaku melihat rudal ditembakkan ke pesawat sipil Malaysia itu.

“Ada beberapa orang saksi yang saling bertentangan satu sama lain, menyampaikan hal-hal lucu bagi para ahli,” kata Lavrov kepada wartawan di Mosko, Kamis (19/3).

Ia pun menyebut beberapa kesaksian yang dianggapnya lucu tersebut, di antaranya adanya asap biru, roket yang menggeliat dan roket bertingkat. Kemudian saksi yang mengaku berada 25 km dari lokasi kecelakaan di dalam cuaca berawan, namun bisa melihat dengan jelas jatuhnya pesawat itu.

Dalam laporan Reuters itu terbentuk opini seolah-oleh pesawat sipil Malaysia itu ditembak oleh roket dari wilayah yang dikuasai pemberontak dukungan Rusia.

Namun demikian, Reuters, dalam laporan itu cukup fair untuk mengakui bahwa kesaksian-kesaksian itu tidak bisa membuktikan sepenuhnya klaim pesawat Malaysia itu ditembak oleh pemberontak Ukraina, karena tidak ada satupun yang benar-benar melihat darimana rudal itu ditembakkan. Demikian Russia Today menyebutkan.

Reuters juga mengaku tidak memiliki bukti bahwa rudal-rudal BUK buatan Rusia, yang dituduhkan AS dan negara-negara barat sebagai penyebab jatuhnya pesawat tersebut telah dikirim oleh Rusia kepada para pemberontak.

Menurut Lavrov, Rusia mengikuti dengan seksama penyelidikan kecelakaan tersebut dan mengkaji setiap fakta-fakta yang terkait untuk menemukan siapa yang bertanggungjawab atas insiden itu.

“Kami menyerukan dilakukannya penyelidikan yang obyektif, profesional dan tidak bias atas semua fakta dan pendapat dan menganggap tidak bisa diterima siapapun yang menganggap bisa memonopoli kebenaran sebelum penyelidikan dituntaskan,” kata Lavrov.

Lavrov mengingatkan masih banyak saksi lain yang tidak disinggung dalam laporan itu, seperti gambar-gambar yang terekam kamera, namun justru diabaikan oleh para pejabat dan media barat. Ia juga menyinggung tentang kesaksian beberapa orang yang melihat adanya pesawat-pesawat tempur (Ukraina) yang terbang di lokasi kecelakaan.

Selain itu, Rusia juga mempertanyakan mengapa AS tidak bersedia merilis gambar satelit yang merekam penembakan pesawat tersebut, atau rekaman komunikasi antara pesawat dengan petugas pengontrol penerbangan Ukraina.
Pesawat Malaysia Airlines MH17 jatuh di wilayah konflik di Ukraina timur pada bulan Juli 2014. Kecelakaan ini menewaskan 298 penumpang dan awak pesawat di dalamnya. Dalam laporan awal penyelidikan kecelakaan itu, disimpulkan bahwa pesawat tersebut jatuh akibat hantaman beberapa benda berkecepatan tinggi tanpa menjelaskan benda apa tersebut.

Penyelidikan kecelakaan tersebut dilakukan oleh tim internasional yang dipimpin oleh Belanda, namun tidak melibatkan Rusia.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*