maidan shooting2Moskow, LiputanIslam.com — Kemenlu Rusia, hari Senin (10/3), mengecam pemerintah dan media massa negara-negara barat yang menutup mata atas aksi-aksi kekerasan terhadap para demonstran pro-Rusia di wilayah Ukraina timur, termasuk aksi penembakan di kota Kharkov baru-baru ini. Kecaman Rusia ini terkait juga dengan keberadaan personil-personil bersenjata dari perusahaan jasa keamanan Amerika Blackwater di wilayah tersebut.

Menurut para saksi mata, beberapa orang bersenjata dan berpenutup kepala, mengendarai mobil van mendekati lokasi demonstrasi warga pro-Rusia di Kharkov, hari Sabtu (8/3). Mereka kemudian menyerang 3 orang peserta aksi demonstrasi yang tengah meninggalkan aksi demonstrasi.

“Mereka mengancam akan membunuh kami. Saya menutupi kepala saya ketika mereka melancarkan pukulan-pukulan,” kata seorang saksi mata kekerasan kepada tabloid Live News.

Menurut keterangan para saksi, para penyerang juga menembakkan senjata api ke kerumunan demonstran dan melukai seorang demonstran.

Aksi tersebut hanya satu dari banyak aksi kekerasan yang dialami para demonstran pro-Rusia, namun diabaikan oleh barat. Aksi kekerasan lain, menurut keterangan kemenlu Rusia, adalah pengusiran 7 wartawan Rusia yang tengah meliput peristiwa di Ukraina.

Berbagai laporan juga menyebutkan beberapa tokoh penggerak aksi-aksi demonstrasi pro-Rusia di beberapa wilayah di Ukraina Timur telah ditahan oleh aparat keamanan tanpa kejelasan. Di sisi lain laporan keberadaan personil Blackwater juga menjadi keprihatinan publik. Blackwater terkenal dengan aksi kebrutalannya di Irak.

Penyidikan Aksi Kekerasan di Kiev

Di sisi lain Rusia terus menyuarakan keprihatiannya atas aksi-aksi kerusuhan di ibukota Ukraina Kiev yang berujung pada penggulingan presiden terpilih Victor Yanukovych bulan lalu.

Dubes Rusia di PBB Vitaly Churkin menyerukan dilakukannya penyelidikan atas berbagai kejadian yang berujung pada hengkangnya Yanukovych, Sabtu (8/3). Menurut Churkin, dirinya telah menekankan perlunya penyidikan tersebut dalam pertemuan DK PBB dengan menyebutkan rekaman pembicaraan antara Menlu Estonia dengan kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa Catherine Ashton tentang keberadaan penembak jitu yang dibayar oleh kubu oposisi anti Yanukovych.

“Segalanya berjalan cepat setelah itu,” kata Churkin dalam program televisi Rusia “Vesti v Subbotu” akhir pekan lalu.

“Seluruh peristiwa yang berujung pada penggulingan kekuasaan di Kiev, khususnya seluruh manifestasi dari aksi-aksi kerusuhan, harus diselidiki dengan baik. Saat penyidikan itu dilakukan, kita akan bisa mengetahui beberapa hal menarik dimana para penembak jitu kubu oposisi menembak tidak saja para demonstran tapi juga pada aparat penegak hukum,” tambah Churkin.

“Kita akan mengetahui hal-hal menarik tentang bagaimana para penembak jitu itu berlatih berminggu-minggu, siapa yang melatih mereka dan siapa yang mengirim mereka untuk memprovokasi kekerasan di Ukraina,” tambahnya lagi.

Namun Churkin merasa agak pesimis dengan prospek penyelidikan tersebut karena kemungkinan diveto oleh barat. Ia pun mencontohkan tuntutan penyelidkan atas dugaan praktik perdagangan organ manusia di sela-sela konflik Kosovo, yang justru diveto oleh Amerika.(ca/russia today)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*