dollarMoskow, LiputanIslam.com — Rusia dapat melumpuhkan ekonomi AS dengan meninggalkan mata uang dolar dalam perdagangannya dengan mitra-mitra bisnis utamanya di Asia seperti Cina dan India. Demikian analisa pakar ekonomi Rusia dan Ketua Centre of Strategic Communications, Dmitry Abzalov, kepada kantor berita Voice of Russia, Minggu (4/5).

Menurut Abzalov, ekonomi dan bisnis hanya bisa berkembang di dalam kondisi sosial politik yang stabil, dan dalam hal ini baik Amerika maupun Uni Eropa justru berada pada kondisi yang berbeda. Sebaliknya kawasan timur (Asia) justru terjadi kestabilan yang mendorong tumbuhnya ekonomi dan bisnis.

“Ekonomi Eropa masih berada di dalam belitan krisis, sementara Cina, sebagai contoh, tumbuh pesat. Barat, termasuk Amerika, mulai menuai kerugian ekonominya akibat sanksi terhadap Rusia terkait krisis Ukraina, yang tidak ada pengaruhnya di timur (Asia). Itulah sebabnya saat ini ekonomi Rusia (investasi, ekspor, impor dan teknologi) berkembang ke timur. Daripada Amerika dan Uni Eropa, target kita sekarang adalah Asia,” kata Abzalov.

Rusia telah menetapkan untuk mengembangkan hubungan bisnisnya dengan negara-negara Asia. India, contohnya, kini menjadi partner bisnis peralatan militer khususnya untuk segmen teknologi tinggi. Sedang dengan Cina hubungan Rusia berbasis pada sektor sumber daya alam, enginering, dan teknologi militer
Russia has decided to develop cooperation with Asian countries.

Dalam kunjungannya ke Cina bulan ini, Presiden Putin diyakini akan menandatangani kontrak pembelian gas alam Rusia oleh Cina. Cina adalah kekuatan ekonomi terbesar di dunia setelah AS dan tidak lama lagi akan melampaui AS. Pertumbuhan ekonomi Cina secara langsung maupun tidak akan memberikan keuntungan besar kepada Rusia.

Para analis termasuk Abzalov percaya bahwa sanksi-sanksi yang diberikan AS dan Uni Eropa justru dapat memperkuat posisi negara-negara berkembang, termasuk Rusia. Industri lokal justru bisa berkembang karena faktor eksternal.

Menurut pimpinan Centre of Economic Research at the Institute of Globalization and Social Movements, Vasily Koltashov, para pemimpin Eropa hanya berfikir jangka pendek untuk menguasai pasar, termasuk ekonomi Rusia. Maka mereka akan selalu “mengganggu” Rusia jika yang terakhir menunjukkan sikap independensinya dalam menentukan kebijakan ekonominya sendiri.

Menurut Vasily, dengan prospek pertumbuhan ekonomi yang tinggi di Asia dibandingkan Eropa, pembentukan “Pasar Modal Asia” sangat dimungkinkan dan dapat menjadi pesaing serius New York dan London. Dan bagi Rusia sebagai negara kaya sumber energi, akan menjadi kekuatan penentu yang diperhitungkan.

Lebih jauh dengan ekonomi Cina yang tumbuh pesat, konsumsi minyak dan gas pun akan terus meningkat, dan dapat mempengaruhi pengambil kebijakan Cina untuk membuat pasar minyak dan gas baru bersama Rusia, yang bebas dari ketergantungan pada barat.

Pada tahun 1980 Cina hanya menghabiskan 3% produksi minyak dunia. Saat ini Cina menghabiskan 10% produksi minyak dunia, meninggalkan Jepang dan hanya tertinggal dari Amerika. Dalam beberapa tahun ke depan diperkirakan Cina akan menjadi komsumen minyak terbesar di dunia.

Dalam pasar minyak global baru yang dibentuk Rusia bersama Cina, dan juga India sebagai salah satu negara komsumen minyak terbesar, mereka bisa saja meninggalkan dolar sebagai alat pembayarannya dan menggantinya dengan mata uang sendiri: roubles, yuans dan rupees. Dalam situasi seperti ini, kata Vasily, mata uang dolar akan tenggelam dan Amerika pun kehilangan pengaruhnya.(ca/voice of russia)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL