uang dollar rupiahJakarta, LiputanIslam.com — Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS mengalami pelemahan yang signifikan. Nilai rupiah di pasar spot, pada Senin, 15 Desember 2014, ditutup dalam kondisi melemah 1,98 persen di level 12.714 per dollar AS. Apa penyebabnya?

Menurut Jonathan Cavenagh, currency strategist Westpac Banking Corp, rupiah semakin tak bertenaga seiring spekulasi perusahaan di Indonesia ramai-ramai membeli dollar AS sebelum akhir tahun.

Selain itu, terjadi penarikan dana besar-besaran oleh investor asing. Data Kementerian Keuangan menunjukkan, sepanjang bulan ini hingga 11 Desember 2014, nilai penarikan dana oleh investor asing mencapai Rp 10,09 triliun atau 801 juta dollar AS dari pasar obligasi.

Pemicu penarikan dana tak lain disebabkan oleh spekulasi adanya prospek kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat. Kondisi itu akan membuat permintaan aset-aset emerging market akan tergerus. Tak terkecuali Indonesia.

“Perusahaan yang membutuhkan dollar jelang akhir tahun ramai-ramai membeli dollar. Arus dana asing yang keluar dari pasar obligasi juga tidak membantu rupiah,” jelasnya.

Ekonom Lana: Rupiah Melemah Karena Harga Minyak Jatuh

Ekonom Samuel Sekuritas Lana Soelistianingsih menilai, jatuhnya harga minyak merupakan salah satu pemicu rupiah melemah.

“Tekanan harga minyak dunia yang di bawah 60 dollar AS per barrel memunculkan ekspektasi terjadinya resesi,” ucap Lana.

Pada masa mendatang, diperkirakan bakal terjadi pemangkasan permintaan minyak. Resesi mungkin akan berlanjut di semua negara. Lana juga melihat adanya ekspektasi The Fed akan menaikkan suku bunga acuannya. Akibatnya, orang-orang lebih memilih memegang dollar AS sebagai safe haven.

“Tapi perlu juga diketahui, dibanding mata uang lain, pelemahan rupiah tidak sebesar mata uang lain secara year to date (ytd). Ringgit Malaysia turun 7 persen ytd, won 5 persen ytd, yen 16 persen ytd, rupiah hanya 3 persen ytd,” jelas Lana.

Pelemahan rupiah terlihat begitu besar karena level nominalnya juga besar dibanding dollar AS. Namun, Lana melihat bahwa pelemahan rupiah tak seburuk mata uang lain. Hingga tutup tahun ini Lana memperkirakan nilai tukar masih akan di kisaran 12.300 per dollar AS, jauh dari perkiraan awalnya yang sebesar 11.800 per dollar AS.

Indef Enny Sri Hartati: Utang Jatuh Tempo Tinggi

Tingginya utang jatuh tempo di Desember 2014 yang mencapai 20-30 persen dari total utang, dinilai sebagai faktor melemahnya rupiah terhadap dolar AS.

“Sebesar 20-30 persen dari total utang pemerintah banyak yang jatuh tempo di Desember ini dan perusahaan-perusahaan baik BUMN dan swasta akan membayar dividen, jadi mereka butuh USD, sehingga imbasnya menekan rupiah yang kian merosot,” kata Ekonom Indef Enny Sri Hartati.

Dia menjelaskan, investor masih melihat Indonesia merupakan negara yang bagus dalam menjalankan investasi, faktor investasi bukan melihat dari pelemahan rupiah terhadap dollar, melainkan iklim investasi yang ada di Indonesia.

“Masih positif dan kondusif investasi. Langkah saat ini bagus untuk mengurangi impor bahan baku, agar bahan baku lebih diprioritaskan di dalam negeri,” ungkap dia.

Menurut dia, Bank Indonesia (BI) sebagai bank sentral harus berani dalam situasi saat ini, lanjut dia, harus ada penguatan domestik, seperti bahan komoditas dan sektor riil. Sehingga BI diharapkan jangan menaikkan kembali suku bunga acuan (BI Rate) disaat kondisi rupiah yang melemah.

“BI jangan naikkan BI Rate di saat Rupiah melemah, intervensi ke pasar itu harus berani, agar negatifnya Rupiah kembali membaik dan tidak menyentuh batas psikologisnya,” jelas Enny. (ba/kompas/metrotv)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL