foto: kompas

foto: kompas

Jakarta, LiputanIslam.com–Nilai tukar Rupiah terhadap Dollar akhir-akhir ini semakin melemah. Saat berita ini ditulis, Dollar berada di kisaran Rp12,646.0000 – Rp12,783. Menteri Keuangan dan Bank Indonesia menyebut situasi ekonomi AS sebagai penyebab utama melemahnya Rupiah.

Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro mengatakan, penyebab pertama melemahnya rupiah adalah data ekonomi Amerika yang positif. Hal ini menyebabkan nilai tukar dolar naik di mata investor. Penyebab kedua, melemahnya pertumbuhan ekonomi Cina. Akibatnya, kata Bambang, ekspor komoditas asal Indonesia semakin menurun.

“Peran ekspor terhadap pertumbuhan ekonomi semakin menurun,” ujar Bambang, seperti dikutip Tempo (9/12).

Hal senada disampaikan analis Indonesian Bond and Pricing Agency (IBPA), Roby Rushandie. Seperti dikutip Tempo, penyebab terpuruknya rupiah adalah adanya spekulasi kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed) yang akan dipercepat pada bulan ini. Penyebab kedua melemahnya rupiah adalah keputusan Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak Bumi (OPEC) tidak mengubah angka produksi.

Menyikapi situasi ini, Menkeu Bambang mengatakan, tidak banyak upaya yang bisa dilakukan pemerintah.

“Kami tidak bisa mengontrol market seperti yang lain,” katanya.

Ini Langkah Presiden Joko Widodo

Sementara itu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyatakan telah mempersiapkan langkah untuk mengatasi pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika dalam jangka pendek. Saat memimpin rapat terbatas bidang ekonomi (17/12) Jokowi mengatakan pelemahan rupiah tidak akan berlangsung lama karena fundamental ekonomi Indonesia terus mengalami perbaikan.

“Ini memang di seluruh negara. Pelemahan mata uang di negara-negara yang lain pun sama karena memang mulai ada penarikan dolar kembali ke amerika. Tetapi dengan fundamental ekonomi kita, dengan perbaikan nilai fiskal kita, ya moga-moga di indonesia tidak berjalan lama. Tahun depan mulai berjalan baik,” kata Jokowi, seperti dikutip voaindonesia.com

Presiden menjelaskan, untuk langkah jangka pendek pihak Bank Indonesia sudah melakukan intervensi pasar. Sementara untuk langkah jangka panjang, Pemerintah lanjut Presiden akan mendorong kalangan industri untuk melakukan ekspor dan mengurangi impor barang. (fa)

Ketua Umum FSP BUMN Bersatu, FX Arief Poyuono menilai, melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS adalah bukti pasar tidak percaya terhadap kebijakan ekonomi Presiden Joko Widodo. “Melemahnya rupiah, menunjukan pasar uang internasional ragu dengan langkah-langkah dan kebijakan ekonomi Jokowi – Jokowinomic,” ujarnya di Jakarta, Selasa (16/12).

Menurut Poyuono, seharusnya penghapusan subsidi BBM dan jatuhnya harga minyak dunia secara matematis bisa memperkuat niliai tukar rupiah terhadap dolar AS. “Sebab impor minyak mentah atau BBM paling banyak menggunakan dolar AS,” kata Poyuono

– See more at: http://fastnewsindonesia.com/article/melemahnya-rupiah-bukti-pasar-tak-percaya-jokowi#sthash.S1rMhP2Z.dpuf

Ketua Umum FSP BUMN Bersatu, FX Arief Poyuono menilai, melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS adalah bukti pasar tidak percaya terhadap kebijakan ekonomi Presiden Joko Widodo. “Melemahnya rupiah, menunjukan pasar uang internasional ragu dengan langkah-langkah dan kebijakan ekonomi Jokowi – Jokowinomic,” ujarnya di Jakarta, Selasa (16/12).

Menurut Poyuono, seharusnya penghapusan subsidi BBM dan jatuhnya harga minyak dunia secara matematis bisa memperkuat niliai tukar rupiah terhadap dolar AS. “Sebab impor minyak mentah atau BBM paling banyak menggunakan dolar AS,” kata Poyuono

– See more at: http://fastnewsindonesia.com/article/melemahnya-rupiah-bukti-pasar-tak-percaya-jokowi#sthash.S1rMhP2Z.dpuf

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL