merkel-junker-cameronLondon, LiputanIslam.com — Rumor kini berkembang di kalangan diplomat dan politisi Eropa bahwa Inggris akan keluar dari keanggotaan Uni Eropa setelah kegagalan Inggris menggagalkan penunjukan Jean-Claude Juncker sebagai Presiden Uni Eropa yang baru.

Meski Perdana Menteri David Cameron dikabarkan telah menelpon Juncker dan menyapaikan ucapan selamat atas penunjukannya sebagai Presiden Uni Eropa, kondisi sebenarnya masih jauh dari kondisi “stabil” dengan rumor tentang keluarnya Inggris dari Uni Eropa.

Sebagaimana dilaporkan BBC, Senin (30/6), Wakil Presiden Komisi Eropa Joaquin Almunia mengatakan bahwa kabar tentang keluarnya Inggris dari keanggotaan Uni Eropa merupakan “kabar yang sangat buruk”.

Joaquin Almunia juga memperkirakan David Cameron akan bisa bekerjasama dengan Jean-Claude Juncker yang disebutnya sebagai politisi yang pragmatis namun komitmen terhadap Uni Eropa.

Cameron, hari Jumat (27/6) memaksa anggota-anggota Uni Eropa untuk melakukan voting atas penunjukan Junker yang tidak disukainya itu, dan kalah dengan suara 26:2.

Hanya Inggris dan Hungaria yang menolak penunjukan Junker, politisi Luxemburg, yang dipandang sebagai politisi yang berorientasi pada penyatuan Uni Eropa yang lebih kuat.

Hari Senin (30/6) Downing Street menyatakan bahwa kekalahan tersebut “hanya memperkuat ketetapan”  David Cameron. Namun Daily Telegraph melaporkan sebaliknya.

“David Cameron akan bekerjasama dengan Junker” dan “ada urusan yang harus diselesaikan oleh Cameron dan Junker”, demikian tulis Telegraph.

Cameron mengatakan bahwa dirinya masih bersikap untuk menegosiasikan kembali hubungan Inggris dengan Uni Eropa, dan kemudin menyerahkan keputusannya kepada rakyat Inggris melalui referendum tentang perlunya Inggris tetap bergabung dengan Uni Eropa atau keluar.

Tentang kengototannya meminta dilakukan voting atas penunjukan Junker, padahal sesuai konvensi penunjukan Presiden Uni Eropa dilakukan melalui mekanisme konsensus, Cameron mengatakan,

“Terkadang mungkin kita harus terisolir dan menjadi benar,” kata Cameron.

Jerman sendiri, melalui Menkeunya Wolfgang Schauble yang berada di kubu berseberangan dengan Inggris mengatakan bahwa hengkangnya Inggris dari Uni Eropa sebagai “tidak terbayangkan” dan “tidak bisa diterima.”

Inggris adalah negara anggota Uni Eropa yang secara tradisi bersikap “independen” dari Uni Eropa, seperti mempertahankan mata uangnya poundsterling. Maka sosok Junker yang pro-integrasi, dianggap tidak cocok dengan Inggris.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL