philae_landing_zone_624Berlin, LiputanIslam.com — Setelah berhasil mendarat di permukaan komet 67P/Churyumov-Gerasimenko, robot Philae berada pada kondisi stabil dan telah mengirimkan sejumlah gambar permukaan komet. Namun kini muncul kekhawatiran bahwa robot tersebut tidak mendapatkan cahaya matahari yang cukup untuk mempertahankan batereinya.

Sebagaimana dilaporkan BBC News, Kamis (13/11) petang, akibat mengalami insiden yang tidak diharapkan sehingga harus melakukan pendaratan 2 kali, setelah sempat terpencal pada pendaratan pertama, robot berada pada posisi yang tidak menguntungkan untuk mendapatkan sinar matahari bagi sumber energi baterenya.

Pendaratan terjadi hari Rabu (12/11). Posisi robot kini berada pada jarak 1 km dari posisi awal yang direncanakan.

Diluncurkan tahun 2004 oleh Badan Antariksa Eropa (European Space Agency/Esa), misi Rosetta (nama satelit yang membawa robot Philae) adalah mempelajari awal tata surya dengan mendaratkan robot di permukaan komet.

Hari Kamis (13/11) robot Philea berhasil mengirimkan gambar-gambar pertama yang diambil dari permukaan komet. Ini sekaligus mengakhiri misi panjang selama 10 tahun yang memakan jarak tempuh 6,4 miliar km.

Gambar yang dikirim Philae menunjukkan kondisi sekeliling di permukaan komet yang suhu permukaannya sekitar minus 70 derajat celcius ini.

Tim pengendali kini mengaki kondisi yang dihadapi robot Philae berkaitan dengan posisinya untuk mendapatkan sinar matahari penyuplai energi surya yang dibutuhkannya untuk menjalankan perlengkapan elektronik.

Philae saat ini hanya mendapatkan 1,5 jam tiap 12 jam masa rotasi komet itu. Jumlah ini tidak cukup untuk menghidupkan seluruh sistem batere saat batere utama utama robot itu habis, sekitar 60 jam sejak meninggalkan satelit Rosetta hari Rabu lalu.

“Ini tergantung pada aktifitas, tentu saja. Semakin banyak aktifitas yang dilakukan robot, lebih banyak juga energi yang dibutuhkan sehingga semakin sedikit waktu yang dimiliki,” kata Paolo Ferri, Direktur Operasi ESA di pusat operasi di Darmstadt, Jerman.

Tim pengendali kini tengah mencoba untuk mengubah posisi robot untuk memaksimalkan pencahayaan matahari bagi panel-panel suryanya. Namun pilihan ini bukan tanpa resiko, selain membutuhkan waktu yang tidak diketahui dengan batere yang semakin menipis. Maka pilihan lainnya adalah memanfaatkan energi yang ada seoptimal mungkin.

Misi pendaratan wahana luar angkasa ke permukaan komet  ini telah dimulai sejak awal dekade 1980-an dan mulai terwujud setelah diluncurkannya satelit Rosetta dengan menggunakan roket Ariane tahun 2004. Setelah di luar angkasa satelit Rosetta inilah yang membawa robot pendarat ke permukaan komet.

Misi ini memakan waktu lama karena mengalami kegagalan pada misi pertama untuk mendaratkan robot di permukaan komet 46P/Wirtanen akibat masalah komunikasi. Komet 67P/Churyumov-Gerasimenko ditetapkan sebagai sasaran berikutnya bulan Agustus lalu, setelah dilakukan perbaikan pada satelit Rosetta serta masa tunggu peredaran komet ke posisi terdekat.

Komet 67P/Churyumov-Gerasimenko memiliki ukuran lebar sekitar 4 km dengan bobot 10 miliar ton. Komet  bergerak dengan kecepatan 40.000 km per-jam.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL