rismaSurabaya, LiputanIslam.com–Walikota Surabaya, Tri Rismaharini, sejauh ini tak gentar menerima banyaknya penentangan atas rencana penutupan lokalisasi PSK, Dolly. Bahkan, rencana penutupan Dolly di Surabaya dipercepat satu hari menjadi 18 Juni.

Risma mengatakan, lokalisasi menjadi sumber penyebaran HIV sehingga Dolly harus segera ditutup. Penutupan Dolly dipercepat juga karena Menteri Sosial Salim Segaf Al Jufrie akan hadir langsung. ”Pak Menteri akan mengikuti ikrar penutupan dan memasang papan pengumuman pemberlakuan undang-undang perdagangan manusia,” katanya ketika dihubungi pada Rabu (4/6).

Kepala Dinas Kesehatan Kota Surabaya Febria Rahmanita mengatakan, pada 2014, hingga akhir Mei, tercatat ada 254 pengidap HIV di Surabaya. Total pengidap HIV di Surabaya sejak 1998 sebanyak 7.600 orang. ”Di Dolly selama 2012 hingga 2014 ada 215 pengidap HIV,” katanya.

Sabtu pekan lalu, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Surabaya menggelar operasi yustisi di bekas lokalisasi Moro Seneng, Sememi, Surabaya. Lokalisasi Sememi itu sudah ditutup akhir 2013. Namun, mereka menemukan 26 pekerja seks komersial (PSK) di dua wisma. Setelah dilakukan tes kesehatan, dua PSK positif mengidap HIV.

Kepala Satpol PP Surabaya Irvan Widyanto mengatakan, lokalisasi yang sudah ditutup tidak dibiarkan begitu saja. Pengawasan rutin tetap dilakukan supaya tidak muncul lagi praktik prostitusi.

Dalam acara Mata Najwa bulan Februari 2014, dengan berlinang air mata, Risma menuturkan bahwa ia semakin mantap memutuskan penutupan Dolly setelah menemukan adanya pelacur miskin berusia 60 tahun. Pelanggannya adalah anak-anak usia SD-SMP yang hanya mampu membayar seribu-dua ribu rupiah. Selain merusak masa depan anak-anak di sekitar lokalisasi pelacuran, terbukti bahwa profesi pelacur tidak menyejahterakan karena hingga usia senja mereka masih hidup miskin. (dw/kompas)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL