imigran terlantarBangkok, LiputanIslam.com — Ribuan imigran Rohingya dan Bangladesh dilaporkan terkatung-katung di laut dekat wilayah Thailand tanpa kejelasan apakah bisa mendarat. Demikian organisasi internasional urusan imigran IOM melaporkan.

Mengutip keterangan IOM, BBC News melaporkan, Selasa (12/5), bahwa para penyelundup imigran kini merasa enggan untuk mendaratkan imigran yang telah membayar mereka itu, setelah pemerintah Thailand melancarkan pembersihan jaringan perdagangan manusia di negara itu, menyusul ditemukannya kuburan massal imigran di dekat perbatasan Malaysia.

IOM menyebutkan angka 8.000 orang yang kini terkatung-katung di tengah laut. Dalam 2 hari terakhir lebih dari 2.000 imigran mendarat di Malaysia dan Indonesia setelah diselamatkan tim penolong, atau setelah mereka berenang sendiri ke darat.

Jeff Labovitz, kepala IOM wilayah Asia Pasifik, mengatakan kepada BBC bahwa penemuan penemuan mayat-mayat imigran di perbatasan Thailand dengan Malaysia telah menyebabkan aparat keamanan Thailand melakukan operasi pembersihan penyelundupan imigran dan hal itu memaksa para penyelundup menahan kapal-kapalnya di tengah laut.

Kebanyakan para imigran itu adalah warga keturunan Rohingya Myanmar yang menghindarkan diri dari konflik kekerasan, serta warga Bangladesh. Mereka harus membayar sejumlah uang kepada para penyelundup (human trafficker) untuk bisa mencapai negara-negara lain dimana mereka berharap bisa hidup lebih baik.

Regim militer Thailand pimpunan PM Jendral Prayuth Chan-ocha mengeluarkan perintah untuk membersihkan kamp-kamp imigran di negaranya menyusul ditemukannya kuburan massal berisi imigran di perbatasan Thailand. Kasus ini menjadi perhatian internasional dan memaksa pemerintah melakukan tindakan tegas terhadap praktik-praktik perdagangan manusia yang juga melibatkan para pejabat setempat.

“Kapal-kapal telah berhenti datang, namun sebagian hanya berpindah arah, sementara lainnya hanya menunggu sampai waktu yang tidak pasti. Jadi banyak orang yang tertahan di tengah laut. Kini segalanya menjadi sangat panas, tidak ada tempat bagi mereka untuk pergi,” kata Labovitz.

Pada hari Senin (11/5) pejabat-pejabat Malaysia mengumumkan sebanyak 1.018 imigran asal Bangladesh dan Rohingya telah mendarat secara ilegal di Pulau Langkawi, setelah mereka ditinggalkan para penyelundup. Sementara pada hari Minggu sebanyak hampir 600 orang imigran diselamatkan di lepas pantai Aceh. Sehari kemudian 400 imigran kembali diselamatkan aparat di Aceh.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL