south-sudanese-children_5X3Minkaman, LiputanIslam.com—Ribuan anak-anak Sudan Selatan terpisah dari keluarganya saat  melarikan diri dari kota dan desa-desa ketika aksi tembak-menembak antara tentara dan penduduk sipil terjadi.

Perang yang terjadi di negara termuda di dunia ini telah membuat anak-anak Sudan Selatan menjadi yatim, terpisahkan dari orang tua mereka, rentan terkena penyakit, kurang gizi dan yang lebih menyedihkan, mereka direkrut oleh kelompok-kelompok yang bertikai untuk dijadikan prajurit muda.

PBB menyatakan bahwa krisis Sudan Selatan telah mencapai level 3 gawat darurat dan menyetarakannya dengan konflik Suriah dimana lebih dari 100.000 orang meninggal dan 3,2 juta lainnya berada dalam krisis pangan semenjak konflik terjadi pada bulan Maret 2011.

Kekerasan yang paling buruk diantaranya adalah yang terjadi di wilayah Jonglei, dimana pertempuran di kota Bor memakan  ribuan korban jiwa.

“Kami berada di Bor saat pertempuran itu meletus, semua orang berlari dan menembak. Aku tidak tahu apakah ibuku masih hidup atau tidak,” ucap Abiik bocah 12 tahun kepada The Associated Press.

Ajing Abiik dan dua adiknya kini berada di salah satu kamp pengungsian terbesar Sudan yang terletak di sepanjang Sungai Nil, bersama dengan puluhan anak lain .

“Kami akhirnya sampai ke sini, tadinya kami begitu takut dan hanya bisa berlari,” tambah Abiik.

Lembaga perlindungan anak PBB, UNICEF memperkirakan 17 persen dari seluruh anak-anak Sudan hidup bersama satu atau tanpa kedua orang-tua. Dari ribuan anak-anak terlantar di kamp-kamp pengungsian PBB, hingga kini hanya 78 saja yang bisa kembali dipertemukan dengan orang tua mereka.

Di Minkaman lembaga-lembaga PBB, doctors Without Borders, Oxfam dan sejumlah LSM lainnya mengutamakan pendistribusian makanan, air dan sarana sanitasi. Hal ini harus dilakukan sesegera mungkin mengingat dalam 6 minggu, kemungkinan musim hujan tiba dan mengubah Minkaman dari sebuah mangkuk berdebu menjadi lautan lumpur.

Menurut juru bicara Save the Children, Helen Mould, tercatat lebih dari 1.000 anak yang terpisah dari orang tua mereka. Save the Children bekerjasama dengan UNICEF untuk menelusuri dan menemukan keluarga yang hilang.

“Dalam banyak kasus, orang tua atau keluarga anak-anak ini masih hidup dan tak sabar ingin berkumpul kembali dengan anak mereka yang hilang,” ucap Helen.

Mould menekankan agar para pemberi amal maupun panti asuhan tidak berusaha mengambil anak-anak yang kehilangan orang tuanya dan membawa mereka keluar Sudan, karena hal itu bukan membawa kebaikan namun justru membahayakan mereka.

”Memindahkan anak-anak keluar perbatasan bukan saja illegal, namun justru menghambat  organisasi seperti kami, untuk bisa mempersatukan kembali keluarga-keluarga yang terpisah ini,” tambah Helen.(lb/ctvnews/huffingtonpost)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL