foot: tempo

foot: tempo

Pekanbaru, Liputanislam.com — Riau nyaris tak pernah benar-benar terbebas dari kabut asap. Beberapa hari ini, kabut asap sisa kebakaran hutan dan lahan menyelimuti Riau, dan membuat jadwal penerbangan di Bandara Sultan Syarif Kasim II terganggu. Hingga sore tadi, ada delapan pesawat baik keberangkatan maupun kedatangan, terpaksa menunda penerbangan. Jarak pandang hanya mencapai 500 meter.

“Tren cuaca cenderung memburuk sejak pagi tadi,” kata Duty Manajer Bandara SSK II Pekanbaru, Baiquni, seperti dilansir Tempo, Sabtu, 13 September 2014.

Hingga pukul 17.00, delapan pesawat tunda penerbangan yakni Lion Air JT 234 dari Pekanbaru tujuan Batam, seharusnya berangkat pukul 15.00. kemudian Citilink QG 935 dari Pekanbaru tujuan Batam dengan jadwal keberangkatan pukul 15.20. Penerbangan Air Asia QZ 7584 dari Pekanbaru tujuan Bandung ditunda dari semestinya berangkat pukul 17.05, dan Garuda Indonesia GA 179 dari Pekanbaru tujuan Jakarta seharusnya berangkat pukul 16.40.

Sedangkan dua pesawat yang menunda kedatangan yakni Lion Air 235 dari Batam menuju Pekanbaru dengan jadwal penerbangan 14. 20 serta Citilink QG 934 dengan jadwal penerbangan 14.30. Lalu Garuda Indonesia GA 176 dari Jakarta menuju Pekanbaru seharusnya mendarat 15.50 serta Air Asia QZ 7583 dari Bandung menuju Pekanbaru seharusnya mendarat pukul 15.55.

“Ada sebelas pesawat lagi yang belum mendapat konfirmasi penundaan penerbangan ini, pesawat kembali terbang jika cuaca sudah membaik,” katanya.

Menurut Baiquni, pilot terpaksa menunda penerbangan karena untuk melakukan penerbangan jarak pandang dibutuhkan minimal 1000 meter.

“Pilot tidak mau mengambil risiko untuk keselamatan dan nilai ekonomis,” ujarnya.

Analis Badan Meterorologi Klimatologi dan Geofisika Pekanbaru, Sanya Gautami, menyebutkan, kabut asap yang menyelimuti Riau diprediksi kiriman dari Sumatra Selatan. Sepekan terakhir ini titik api lebih dominan terpantau di Palembang. Pergerakan angin yang bergerak dari selatan menuju utara Pulau Sumatera memicu kiriman asap ke Riau.

Sedangkan data BMKG menyebutkan, dalam waktu 24 jam pada 12-13 September 2014, titik api terbanyak terpantau di Sumatra Selatan yakni 264 titik api, disusul Bangka Belitung 22 titik api, kemudian Lampung 15 titik api, dan Riau 9 titik api.

“Titik api Riau tidak begitu berdampak karena hanya sedikit, sedangkan titik api di Sumatra Selatan sangat banyak,” ujar Sanya. (ph)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL