Foto: Okezone

Foto: Okezone

Pekanbaru, LiputanIslam.com — Seolah tak ada akhirnya, kabut asap selalu saja menghantui Provinsi Riau. Sempat menghilang beberapa waktu yang lalu pasca kedatangan Presiden SBY, kini Riau kembali bersimut asap tebal. Bencana yang sering terjadi ini membuat masyarakat khawatir.

“Kami resah asap muncul lagi. Sebelumnya, Presiden SBY sudah berjanji meminimalkan kabut asap di Riau, tapi kini mulai muncul lagi dan asapnya sudah berapa hari tidak hilang malah semakin tebal,” keluh Yuli Rahmawati, ibu rumah tangga, seperti dilansir Okezone, 16 September 2014.

Berdasarkan data BMKG, saat ini terdapat peningkatan titik api di Riau. Jumlahnya mencapai 114 titik api. Jumlah hot spot ini hampir merata di sejumlah wilayah. Kebakaran paling banyak terjadi di Kabupaten Pelalawan dengan 38 titik api.

“Jarak pandang karena asap juga mulai terbatas di Riau yakni sekitar 1 kilometer,” ucap Kabid Data BNPB Agus Wibowo.

Kabut asap ini sangat berbahaya, sebagaimana diterangkan oleh Dirjen Kementrian Kesehatan RI, Prof dr Tjandra Yoga Aditama, setidaknya ada delapan pengaruh buruk kabut asap pada kesehatan yaitu:

1. Kabut asap dapat menyebabkan iritasi pada mata, hidung, dan tenggorokan, serta menyebabkan reaksi alergi, peradangan dan mungki juga infeksi.

2. Kabut asap dapat memperburuk asma dan penyakit paru kronis lain, seperti bronkitis kronik, PPOK dll.

3. Kemampuan kerja paru menjadi berkurang dan menyebabkan orang mudah lelah dan mengalami kesulitan bernapas.

4. Mereka yang berusia lanjut dan anak-anak (juga mereka yang punya penyakir kronik) dengan daya tahan tubuh rendah akan lebih rentan untuk mendapat gangguan kesehatan.

5. Kemampuan paru dan saluran pernapasan mengatasi infeksi berkurang , sehingga menyebabkan lebih mudah terjadi infeksi.

6. Secara umum maka berbagai penyakit kronik juga dapat memburuk.

7. Bahan polutan di asap kebakaran hutan yang jatuh ke permukaan bumi juga mungkin dapat menjadi sumber polutan di sarana air bersih dan makanan yang tidak terlindungi.

8. Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) jadi lebih mudah terjadi, utamanya karena ketidak seimbangan daya tahan tubuh (host), pola bakteri/virus dll penyebab penyakit (agent) dan buruknya lingkungan (environment). (ph)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL