cedar01LiputanIslam.com — Momennya tampaknya sudah diketahui oleh media barat, namun itu tiga tahun yang lalu ketika fenomena yang kemudian dikenal sebagai “Arab Spring” atau “Musim Semi Arab” meledak ke dunia nyata. Pertama di Tunisia dan kemudian di Mesir, dengan para pakar tidak memahami sepenuhnya fenomena runtuhnya beberapa rezim yang telah berkuasa lama di wilayah paling penting dunia.

Kematian mengerikan diktator Libya Muammar Gaddafi, kerusuhan sipil di kerajaan-kerajaan Arab, datang sebagai kelanjutan dari apa yang oleh para politisi dan analis politik disebut sebagai “revolusi-revolusi warna” dalam 20 tahun terakhir.

Revolusi Oranye di Ukraina tahun 2002, Revolusi Mawar di Tbilisi, Revolusi Hijau di Iran yang gagal tahun 2009, Revolusi Cedar di Lebanon tahun 2005, dan kembali ke Kiev lagi tahun ini. Tidak seperti revolusi tahun 2002, revolusi tahun ini di Ukraina tidak bisa menghindarkan diri dari pertumpahan darah.

Penyebab mungkin berbeda di negara-negara yang berbeda. Namun jutaan orang yang turun ke jalanan semuanya dipicu oleh ketidakpuasan dengan rezim yang berkuasa dan orang-orang yang membenci para pemimpin di negerinya.

Namun skenario “revolusi warna” atau “Musim Semi” selalu sama, seolah-olah ditulis di tempat yang sama oleh orang yang sama. Selalu ada koneksi Amerika untuk masing-masing skenario tersebut. Masing-masing melibatkan pakar, politisi, media massa dan para jenderal AS.

Serangan bom di ibukota Yugoslavia Belgrade, rudal yang menghancurkan kota-kota Libya, pasokan senjata kepada pasukan anti pemerintah Suriah, kunjungan Wakil Presiden AS Dick Cheney kepada para demonstran yang mengamuk Tbilisi, kunjungan asisten Menlu Victoria Nuland dan senator John McCain ke Maidan, dukungan keuangan politik dan murah hati untuk “revolusi oranye”, hingga pemberitaan-pemberitaan yang memojokkan pemerintahan Venezuela, adalah satu kaitan dalam mata rantai yang sama.

Sementara sentimen yang menggunakan ketidakpuasan publik terhadap rezim yang korup, politisi yang berbasis di Washington dan perusahaan jasa keamanan melakukan segala upaya untuk memanfaatkan gerakan massa dengan menyusupkan orang-orangnya ke dalamnya. Ini adalah persis apa yang sedang terjadi dalam cara yang paling kurang ajar di ibukota Ukraina Kiev.

Tapi pengalaman yang telah diperoleh dalam beberapa tahun terakhir membuktikan bahwa Washington tengah menabur angin, tapi menuai sesuatu yang berbeda dari apa yang diharapkan. Mesir telah berputar di luar kendali; Irak yang justru jatuh ke bawah pengaruh Iran; Libya jatuh ke dalam perang sipil yang tak berkesudahan; Hizbollah yang semakin kuat di Lebanon; Suriah yang mampu melawan agresi AS, serta penarikan yang memalukan AS dari Afghanistan, semua itu menjadi bukti kebangkrutan strategi global Washington.

Situasi di Ukraina juga telah gagal mengikuti skenario Washington. Alih-alih berhasil dengan cepat menempatkan regim pro AS yang solid, Ukraina justru jatuh ke dalam kekacauan yang menghancurkan eksistensi negara itu.

Hari-hari dominasi dunia AS telah hilang. Dunia telah berubah dan membenci apa yang direncanakan dan disusun oleh para politisi di tepi Sungai Potomac. Washington harus memperhitungkan kembali semuanya. Lebih cepat lebih baik bagi dunia dan bagi AS.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL