Pemandangan kawasan reklamasi pantai utara jakarta di Pluit, Jakarta. (ANTARA/Irwansyah Putra)

Pemandangan kawasan reklamasi pantai utara jakarta di Pluit, Jakarta. (ANTARA/Irwansyah Putra)

Jakarta, LiputanIslam.com–Reklamasi Teluk Jakarta terus dikritik berbagai pihak. Dari sisi lingkungan hidup, reklamasi ini berpotensi membawa berbagai kerusakan. Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) bahkan memprediksi reklamasi di pantai utara Jakarta akan menenggelamkan Ibu Kota. Apalagi, analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal) sebagai salah satu persyaratan yang penting untuk mendukung pembangunan reklamasi juga belum dipenuhi dengan baik.

Dosen Kelompok Keahlian Perumahan Permukiman Sekolah Arsitektur Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK) Institut Teknologi Bandung (ITB) Jehansyah Siregar, menyatakan, Amdal reklamasi di Teluk Jakarta tidak jelas. Seharusnya, pemerintah membeberkan hasil Amdal kepada masyarakat.

“Amdal Reklamasi Jakarta berdasarkan pesanan. Tidak bisa (pengembang) bilang sudah ada Amdal-nya. Kalau Amdal memang sudah ada, bagimana (hasilnya)?” ujarnya, seperti dikutip Kompas.com, Jumat (8/4/2016).

Ia mendesak pemerintah dan swasta bisa membuka hasil Amdal kepada publik. Setelah itu, pemerintah membuat forum yang mengundang pihak-pihak terkait.

Sementara itu, Dewan Daerah (DD) Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) DKI Jakarta, Moestaqim Dahlan,  dalam talkshow Kompas TV, Senin (11/4/2016) malam mengatakan, “Reklamasi Teluk Jakarta dilakukan, 30-50 tahun ke depan akan menenggelamkan DKI Jakarta. Karena kita lihat bentang alamnya diubah, berubah bentang alam pasti bencana ekologi terjadi.”

Reklamasi laut akan mewujudkan sebuah kota baru. Namun kota baru itu, menurut dia, akan menenggelamkan kota lama. Ia menyebut struktur ekologi Jakarta berbeda dengan Singapura maupun Qatar yang berhasil melakukan reklamasi.

“Ketika daerah hulu dibangun, luapan banjir lebih besar. Karena aliran dari 13 sungai masuk ke lautnya terhambat. Belum lagi air laut yang naik, karena lebih tinggi, maka (air laut) akan naik ke daratan,” kata Moestaqim.

Dia juga menyebut pengembang mengambil material dan pasir secara ilegal untuk membangun pulau. Awalnya, mereka mengambil material dari Banten. Tetapi warga setempat menolaknya. Mereka lalu mengambil material dari Bangka Belitung. Warga di sana juga sudah menolak materialnya diambil.

Alternatifnya, pengembang mengambil pasir di Teluk Jakarta. Akibatnya, 40 pulau tidak berpenghuni di Kepulauan Seribu tenggelam.

“Reklamasi juga membuat air keruh, terumbu karang hilang, biota laut tidak ada lagi, dan ikan-ikan menghilang. Artinya, reklamasi Teluk Jakarta sangat merugikan,” kata Moestaqim.

Reklamasi  akan menghasilkan tambahan daratan seluas 5.100 hektare atau lebih besar dari luas wilayah Sukabumi, Jawa Barat. Lahan hasil reklamasi akan terbagi menjadi 17 pulau yang terbentang di pantai utara Jakarta. Ke-17 pulau itu dibagi menjadi tiga kawasan. Kawasan barat untuk pemukiman dan wisata. Kawasan tengah untuk perdagangan jasa dan komersial. Sedang kawasan timur untuk distribusi barang, pelabuhan, dan pergudangan. (dw/kompas)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL