Mikhail Gorbachev on State Visit to PolandMoskow, LiputanIslam.com — Referendum yang dilakukan oleh rakyat Krimea merupakan bentuk koreksi atas kesalahan yang dibuat di era Uni Sovyet. Demikian komentar mantan pemimpin Sovyet Mikhail Gorbachev tentang referendum yang menghasilkan keputusan Krime untuk bergabung dengan Rusia.

“Sebelumnya Krimea digabungkan ke dalam Ukraina di bawah hukum Soviet, untuk lebih tepatnya oleh hukum partai komunis, tanpa meminta pendapat orang-orang, dan sekarang orang-orang telah memutuskan untuk memperbaiki kesalahan itu. Hal ini seharusnya tidak disambut dengan ancaman sanksi, ” kata Gorbachev kepada kantor berita Rusia Interfax, Senin (17/3).

Gorbachev memuji referendum tersebut, menyatakan bahwa itu “mencerminkan aspirasi warga Krimea itu.”

Dia juga mengkritik penggunaan sanksi terhadap Rusia sebagai respon barat atas hasil referendum.

“Menjatuhkan sanksi, Anda membutuhkan alasan yang sangat serius. Dan itu harus ditegakkan oleh PBB,” tambah Gorbachev.

“Kehendak rakyat Krimea dan kemungkinan unifikasi Krimea dengan Rusia sebagai wilayah konstituen bukan merupakan alasan seperti itu.”

Lebih dari 96 persen pemilih dalam referendum Krimea yang diadakan pada hari Minggu menjawab ‘ya’ untuk republik otonom itu bergabung dengan Rusia,  dan kurang dari 4 persen suara peserta yang ingin wilayah ini tetap menjadi bagian dari Ukraina. Parlemen Krimea juga dengan suara bulat memutuskan untuk mengintegrasikan wilayah tersebut ke Rusia.

Sementara itu AS, Uni Eropa dan Kanada telah memberlakukan sanksi baru terhadap Rusia setelah referendum.

Para pengamat internasional yang hadir selama referendum membuat pernyataan resmi pada hari Senin bahwa pemungutan suara itu berjalan sesuai dengan standar internasional.

Pada hari Senin Presiden Vladimir Putin telah menandatangani sebuah deklarasi bahwa Rusia mengakui Krimea sebagai negara yang berdaulat dan mandiri.

“Berdasar kehendak rakyat Krimea pada referendum Krimea yang diadakan pada tanggal 16 Maret 2014 saya memerintahkan untuk mengakui Republik Krimea, di mana kota Sevastopol memiliki status khusus, sebagai negara berdaulat dan negara merdeka,” dokumen yang ditandatangani Putin terbaca.

Krimea juga berusaha mendapatkan pengakuan dari PBB sebagai negara yang berdaulat.

“Republik Krimea bermaksud untuk membangun hubungan dengan negara-negara lain atas dasar kesetaraan , perdamaian, kerjasama saling bertetangga, dan prinsip-prinsip umum yang disepakati bersama atas kerjasama politik, ekonomi dan budaya antara negara,” pernyataan resmi parlemen Krimea.

Krimea juga telah secara resmi memperkenalkan rubel sebagai mata uang kedua bersama dengan hryvna Ukraina. Pada hari Senin republik baru itu juga menciptakan bank sentral Bank of Crimea dan mengumumkan bahwa semua pendapatan anggaran, yang sampai sekarang sedang dipindahkan ke Kiev, sekarang akan dikreditkan ke rekening republik. Mata uang ganda akan berlaku selama sekitar enam bulan.(ca/russia today)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*