Teheran,LiputanIslam.com-Hassan Rouhani diambil sumpah sebagai presiden Iran pada hari Sabtu (5/6), bertepatan dengan peringatan Konstitusi Iran ke-111. Prosesi pengambilan sumpah jabatan di parlemen Iran ini dihadiri lebih dari 170 utusan negara asing.

Presiden Iran dalam pidatonya mengulurkan tangan persahabatan kepada negara-negara tetangga. Namun, bisakah diharapkan bahwa mereka akan balas menggenggam tangannya? Barangkali ada baiknya kita melihat ini dari sisi lain.

Tidak bisa dipungkiri bahwa perbedaan ideologi menjadi kendala dalam mengatasi persoalan antara Iran dan sejumlah negara tetangganya. Namun, persoalan negara-negara tersebut dengan Iran berakar pada hal lain, yaitu sistem pemerintahan republik di Iran.

Iran adalah satu-satunya negara kawasan yang telah mengadakan pemilu sebanyak usia revolusinya. Jika kita mengikuti proses dan hasil pemilu-pemilu tersebut, kita menyaksikan bahwa nyaris semua hasil pemilu meleset dari prediksi pengamat dalam atau luar negeri.

Bangsa Iran adalah rakyat yang pertama kali melakukan revolusi (rakyat terhadap monarki) dalam sejarah. Mereka telah berjuang sejak 111 tahun lalu untuk meraih apa yang telah kita saksikan saat ini.

Presiden Rouhani diambil sumpah di gedung parlemen yang pembangunannya telah diupayakan rakyat Iran sejak sepuluh abad lalu. Buah dari perjuangan mereka menjelma dalam prosesi pengambilan sumpah Rouhani; prosesi yang dihadiri oleh utusan dari hampir semua negara dunia. Kehadiran mereka menegaskan kebesaran pemilu Iran dan perjuangan rakyatnya selama 111 tahun.

Jelas bahwa dalam kondisi semacam ini, negara-negara yang rakyatnya belum pernah menyaksikan pemilu, tentu akan merasa sebal (tentu jika tidak keliru, salah satu dari negara-negara ini pernah mengadakan pemungutan suara sekitar 14 abad lalu. Pemungutan suara ini dilakukan guna mengetahui suku mana saja yang siap berpartisipasi untuk meneror Nabi Muhammad saw).

Dengan situasi seperti ini, banyak rakyat di negara-negara kawasan yang akan meminta untuk menyaksikan kondisi serupa dengan Iran. Tentu saja permintaan semacam ini akan membahayakan takhta para penguasa negara-negara tersebut.

Pada hakikatnya, inilah persoalan utama Amerika dengan Iran.

Sejak beberapa dekade, Amerika dan sekutunya (dengan paham Machiavelli yang mereka anut) berusaha untuk mendudukkan kaki tangan mereka sebagai penguasa di Timur Tengah. Mereka sama sekali tidak berniat untuk menghentikan tren ini.

Pasca keruntuhan Kekhalifahan Ottoman, rakyat di negara-negara Arab mengalami semacam kegalauan identitas  politik. Negara-negara Barat lalu memanfaatkan kesempatan ini dan menguasai negara-negara Arab tersebut.

Lantaran rakyat di negara-negara ini belum pernah menyaksikan model pemerintahan Islam, maka bagi mereka gagasan pemerintahan Islam tak lebih dari sebuah filsafat ideologis. Namun, dengan kesuksesan yang terus diraih Republik Islam Iran, mereka dapat melihat model sebuah republik Islam atau pemerintahan Islam yang bisa ditiru.

Jika rakyat di Timur Tengah menemukan model pemerintahan yang bisa ditiru, pasti mereka akan berupaya mewujudkannya di negara mereka. Praktis ini akan mengancam para penguasa monarki di kawasan ini. Banyak rakyat yang bermimpi rezim penguasa mereka runtuh dan digantikan dengan sistem seperti republik Islam. Dengan demikian, bukan hanya kekuasaan monarki yang akan runtuh, tapi juga hegemoni Barat dan Amerika.

Jadi, bisa dikatakan bahwa faktor utama permusuhan negara-negara kawasan terhadap Iran adalah sistem “demokrasi Islami” yang dianut Negeri Mullah. Melihat bahwa saat ini, sistem demokrasi Islami didukung oleh banyak pihak, musuh-musuh Iran tentu akan semakin sebal, apalagi saat menyaksikan prosesi pengambilan sumpah jabatan Rouhani.

Penulis: Emad Abshenash (alalam/sputnikpersia)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL