hunter  bidenKiev, LiputanIslam.com — Semakin tegas hubungan erat antara rezim baru Ukraina dengan AS. Setelah keterlibatan nyata para pejabat AS dalam aksi-aksi penggulingan pemerintahan Presiden Victor Yanukovych, seorang putra Wapres AS Joe Biden, Hunter Bidan, ditunjuk sebagai anggota Dewan Direktur perusahaan migas terbesar Ukraina, Burisma Holdings.

Menurut laporan Russia Today hari ini (14/5) dengan mengutip sumber pemerintahan Ukraina, Hunter Biden ditugaskan untuk memberi nasihat tentang “transparansi, pengelolaan perusahaan yang baik, tanggungjawab, ekspansi internasional dan prioritas-prioritas lain” demi “memberikan peningkatan ekonomi dan keuntungan bagi rakyat Ukraina”.

Kroni Wapres AS Joe Biden lainnya, Devon Archer yang juga penasihat kampanye Joe Biden tahun 2004, juga bergabung dalam dewan direktur Burisma Holdings.

Sebelumnya Hunter yang lulusan Yale Law School itu menjabat sebagai Ketua Dewan Penasihat lembaga kajian National Democratic Institute dan Direktur Center for National Policy serta Direktur US Global Leadership Coalition yang membawahi 400 perusahaan dan LSM AS. Ia juga dikenal sebagai ahli masalah keamanan dan politik luar negeri.

Presiden Bill Clinton juga pernah menunjuknya sebagai Direktur Eksekutif E-Commerce Policy , dan pada tahun 2008 ditunjuk sebagai Ketua Panitia Pelantikan Barack Obama dan Joe Biden.

Adapun Burisma Holdings didirikan tahun 2002, menguasai kontrak karya di wilayah-wilayah kaya migas, termasuk di wilayah Dnieper-Donets, Carpathian dan Azov-Kuban.

Berita pengangkatan Hunter Biden itu muncul saat perusahaan migas Rusia Gazprom mendesak Ukraina untuk membayar tagihan senilai $1.66 miliar yang pembayaran akhirnya awal Juni mendatang, atau Rusia akan menghentikan pasokan gasnya ke Ukraina.

Ukraine saat ini memiliki sekitar 9 miliar kubik meter cadangan gas, namun kebutuhan gas saat musim dingin mencapai 18.5 kubik meter. Ukraina harus membeli 27,7 miliar kubik meter dari Gazprom dan menanggung hutang senilai $3,5 miliar tahun 2013.

Gazprom meminta bayaran senilai $485 per 1.000 kubic meter, naik dari sebelumnya yang $268.5 saat Ukraina masih dipimpin oleh Victor Yanukovych. Ukraina menolak kenaikan tersebut dan menuduhnya sebagai “bermotif politik”. Ukraina juga mengancam tidak akan membayarkan hutang jika harganya tidak dikembalikan ke harga semula, atau mengajukan kasusnya ke arbitrasi internasional di Stockholm.(ca/russia today)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL