CrimeaMoskow, LiputanIslam.com — Selama aksi pemisahan wilayah Krimea dari Ukraina, terlihat jelas pasukan-pasukan Rusia dengan seragam yang disamarkan, menduduki aset-aset strategis Krimea termasuk pangkalan-panglan militer dan gedung-gedung pemerintahan.

Namun sejauh ini Rusia selalu membantah pihaknya terlibat langsung dalam gerakan pemisahan Krimea melalui referendum yang digelar tanggal 16 Maret lalu, hingga akhirnya Presiden Rusia Vladimir Putin mengakui bahwa tentara-tentara Rusia terlibat langsung dalam aksi pemisahan Krimea dari Ukraina, baik sebelum dan selama referendum berlangsung di wilayah itu. Ini merupakan pertama kalinya Putin mengakui hal itu.

“Tujuan kami adalah memastikan kondisi untuk sebuah pemungutan suara yang bebas,” kata Putin seperti dilansir kantor berita AFP, Kamis (17/4).

Hal tersebut disampaikan Putin untuk menjelaskan tentang tentara-tentara berseragam militer tanpa lencana yang muncul di Krimea pada akhir Februari lalu. Saat itu, sebagian besar dari mereka berjaga di sekeliling pangkalan-pangkalan militer Ukraina.

“Di belakang pasukan pertahanan lokal adalah tentara-tentara kami. Mereka bertindak dengan benar, tegas dan profesional,” tutur Putin. “Kami harus melindungi masyarakat dari kemungkinan penggunaan senjata di pangkalan-pangkalan militer Ukraina,” tandasnya.

Putin juga menegaskan bahwa dialog merupakan satu-satunya cara untuk mengakhiri krisis di Ukraina.

“Hanya dengan dialog, dengan prosesur demokrasi dan bukan dengan penggunaan militer, tank-tank dan pesawat-pesawat, maka ketertiban bisa diterapkan di negeri tersebut,” tegas Putin.

Sementara itu, Menteri Dalam Negeri Ukraina Arsen Avakov mengumumkan di halaman Facebook-nya bahwa tiga aktivis pro-Rusia tewas dan 13 lainnya terluka dalam bentrokan dengan pasukan Ukraina di sebuah pangkalan militer di pelabuhan Laut Hitam Mariupol pada Rabu malam (16/4) waktu setempat. Avakov mengatakan 63 orang lainnya juga ditangkap.

Keberadaan pasukan Rusia di Krimea tersebut dimungkinkan karena keberadaan pangkalan Armada Laut Hitam Rusia di Krimea. Berdasarkan perjanjian dengan Ukraina, Rusia diijinkan menempatkan sampai 25.000 tentara untuk menjaga keamanan pangkalan tersebut.(ca/detiknews)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL