Cirebon, LiputanIslam.com — Jalur Pantura adalah nama yang digunakan bagi jalan nasional yang menghubungkan kota pelabuhan Merak di ujung barat Pulau Jawa dengan Ketapang, Banyuwangi, yang melintasi sepanjang pantai utara Pulau Jawa sepanjang 1.400 km. Lebih populer lagi adalah jalan raya yang menghubungkan 2 kota terbesar di Indonesia yang letaknya di Pulau Jawa, yaitu Jakarta dan Surabaya.

Pada puncak mudik mendatang diperkirakan lalu-lintas Pantura akan mengalami kenaikan hingga 10x lipat lalu lintas hari biasa. Kepadatan lalu lintas diperkirakan akan dimulai seminggu sebelum hari-H.

Demikian keterangan Kepala Bagian Operasi Korlantas Mabes Polri Kombes Polisi Istiono, di Cirebon, Selasa (20/5).

Menurut penurutan Istiono, pada hari biasa jumlah kendaraan yang melalui jalur Pantura sekitar 11 ribu kendaraan per-hari. Namun data dari Departemen PU menyebutkan angkanya mencapai 20.000 kendaraan per-hari.

Lalu lintas Pantura memang padat karena jalur tersebut menjadi tulang punggung infrastruktur atas aktivitas ekonomi dan bisnis di Pulau Jawa. Adapun lalu-lintas terpadat di sepanjang Pantura terjadi di daerah Jawa Barat, dari Jakarta sampai Cirebon.

“Begitu masuk jalur Semarang, Jawa Tengah, Pantura terbelah dua ke timur atau ke selatan, jadi tak terlalu padat lagi,” kata dia.

Untuk mengatasi kepadatan lalu-lintas itu Kepolisian memastikan akan melakukan sejumlah rekayasa lalu lintas pada saat mudik dan menggelar Operasi Ketupat. Untuk rekayasa lalu lintas, kepolisian menggandeng Direktorat Bina Marga, Kementerian Pekerjaan Umum untuk menyiapkan prasarana jalan. Kerja sama tersebut di antaranya membuat pembatas jalan (Mount Block) untuk memblokir putaran balik yang rawan kemacetan.

Istiono menyayangkan, masyarakat seringkali mengubah prasarana pemblokiran putaran balik itu. “Hanya kalau pakai semen, masyarakat malas merusak. Kalau yang lain pasti dirusak,” katanya.

Kepolisian akan menggelar operasi ketupat sejak H-7 hingga H+7 lebaran. Untuk saat ini sedang dibahas aspek perencanaan, kesiapan personil, penyediaan sarana dan prasana, serta logistik.

“Untuk jumlah personil, kami sedang menghitung berapa yang akan di-floating. Kalau tahun kemarin sekitar 89.000 personil,” kata Istiono menambahkan.

Melintasi 5 provinsi, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, serta kota-kota paling padat di Indonesia, jalan ini pertama kali dibuat oleh Gubernur Jendal Hindia Belanda Daendels tahun 1808-an. Tujuan awal pembangunan jalan ini adalah untuk menghadapi serangan Inggris.(ca/tempo.co/wikipedia)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL