festivalmalukudamai2revisi-531f0d4644d37

Sumber foto: Islam Indonesia

Jakarta, LiputanIslam.com — Mata Tineke (21), tak lepas dari layar putih  yang terhampar di hadapannya. Ketika  layar memperlihatkan adegan saling peluk penuh sayang antara  dua perempuan Maluku yang berbeda keyakinan (Islam dan Kristen), tiba-tiba mata remaja Ambon kelahiran Jakarta itu melelehkan air matanya. “Film “Provokator Damai” itu sungguh mengharukan dan memang seharusnya beginilah orang-orang Maluku berinteraksi satu sama lain: penuh damai,” ujar mahasiswa suatu perguruan tinggi swasta di Jakarta itu selepas film usai.

Tineke adalah salah satu dari ratusan anak muda Maluku yang  secara antusias hadir pada  acara Festival Orang Basudara di Goethe Haus Jalan Sam Ratulangi, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (10/3). Mereka adalah generasi baru Maluku yang sudah merasa jenuh akan konflik dan haus akan perdamaian.

“ Tak ada guna kita terus bakalae (berkelahi) dan baku bunu (saling bunuh),”ujar Ferry Latuconsina, salah satu anak muda Maluku lain.

Disamping pemutaran film dokumenter dan pameran foto mengenai perdamaian di Maluku, dalam festival ini juga diluncurkan “Carita Orang Basudara”, sebuah buku yang ditulis 26 penulis yang sebagian besarnya pernah terlibat konflik di Maluku dan merasa jenuh lantas memburu perdamaian.

Menurut Jack Manuputty, perdamaian di Maluku tidak akan pernah terwujud tanpa adanya niat baik dari seluruh orang Maluku, baik dari kalangan Kristen maupun dari kalangan Islam. Perdamaian itu pun hanya akan menjadi “jalan di tempat” jika kedua pihak yang pernah bertikai tidak berusaha untuk saling mendekati dan berkomunikasi kembali. “Kuncinya adalah kepercayaan. Karena itu kami tergerak untuk menumbuhkan kembali kepercayaan ini di kalangan kami,” ujar pendeta yang juga aktivis  Lembaga Antar Iman Maluku (LAIM)  ini.

Hampir senada dengan Jack, Abidin Wakano juga menekankan lagi bahwa perdamaian merupakan jalan yang selalu ditempuh leluhur mereka dalam berinteraksi. Kalaupun masyarakat Maluku pernah melakukan kesalahan maka cukup kesalahan tersebut dilakukan sekali dan jangan pernah terulang kembali. “ Kalau dulu kita baku bunu karena keyakinan masing-masing maka sekarang kita harus siap mati demi perdamaian antara kita,”kata tokoh masyarakat Islam di Maluku tersebut.

Selain para “provokator damai” (sebutan untuk orang-orang yang berjuang keras mengupayakan perdamaian di Maluku) dalam festival yang dilangsungkan atas kerjasama LAIM dengan Pusat Studi Agama dan Demokrasi (PUSAD) Yayasan Paramadina serta The Asia Foundation (TAF) juga menghadirkan berbagai tokoh. Diantaranya Ihsan Ali Fawzi, Sidney Jones, Glenn Fredly, Melanie Subono, Angga Sasongko (sutradara film Cahaya dari Timur), Ratna Sarumpae dan Tompi.

“Kami berkumpul di sini untuk menegaskan bahwa orang boleh belajar tentang konflik dari Maluku, itu dulu. Sekarang orang harus belajar perdamaian dari Maluku,”ujar Jack Manuputty dalam kata sambutan acara tersebut.

Sumber: Islam Indonesia (LiputanIslam.com/af)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*