paus francisRoma, LiputanIslam.com — Turki menarik duta besarnya di Vatikan setelah Gereja Vatikan menuduh Turki telah melakukan genosida terhadap warga Armenia tahun 1915.

Pada hari Minggu (12/5) Paus Franciskus memimpin upacara misa suci yang didedikasikan untuk memperingati ‘pembantaian warga Kristen Armedia oleh Kerajaan Ottoman Turki’ yang ke-100 tahun. Dalam pidatonya Sri Paus menyebut peristiwa itu sebagai ‘genosida pertama di abad 20’.

Seperti dilansir BBC News, Sri Paus mengatakan ia menanggung tugas untuk menghormati orang-orang tak berdosa yang dibantai oleh ‘Ottoman Turki’.

“Menyembunyikan dan menolak kejahatan adalah seperti membiarkan luka terus berdarah tanpa membalutnya,” kata Sri Paus.

Menanggapi hal itu, Turki langsung menarik duta besarnya di Vatikan sebagai bentuk protes. Turki juga telah memanggil Dubes Vatikan di Ankara untuk menyatakan protes pemerintah Turki.

Para ahli sejarah barat memperkirakan sekitar 1,5 juta orang Armenia yang mayoritas adalah penganut Kristen, tewas dibunuh oleh pasukan Ottoman Turki dalam Perang Dunia I. Namun Turki membantah hal itu. Selain jumlahnya dianggap berlebihan, orang-orang Armenia itu menjadi korban perang, bukan genosida.

Seorang pejabat Turki mengatakan kepada Reuters bahwa pidato Sri Paus itu telah menimbulkan ‘masalah kepercayaan’ dalam hubungan kedua negara.

Paus Franciskus bukan pemimpin Katholik pertama yang menuduh Turki sebagai pelaku pembantaian massal warga Armenia. Pada tahun 2001 Paus Paulus II juga menyebut tentang pembantian ini dalam pernyataan bersama dengan Karenkin II, pemimpin Gereja Armenia.

Selain vokal tentang ‘pembantaian warga Armenia’ ini, Paus Franciskus juga dikenal vokal tentang masalah ‘Holocaust’, kekejaman regim Stalin (Uni Sovyet) dan peristiwa-peristiwa genosida lainnya di Kamboja, Rwanda, Burundi dan Bosnia. Baru-baru ini beliau juga mengutuk kekejaman ISIS.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL