Children sit with their belongings as they wait to be evacuated from a besieged area of HomsLiputanIslam.com — Harapan masyarakat dunia atas berakhirnya konflik berdarah berkepanjangan yang terjadi di Suriah sempat membuncah ketika perundingan Genewa II dimulai di Swiss tgl 22 Januari lalu. Namun kini, harapan itu seolah memudar sudah setelah perundingan tersebut dinyatakan gagal oleh mediator utama perundingan, Lakhdar Brahimi.

“Saya rasa, lebih baik kedua pihak untuk kembali dan mengaca pada tanggungjawab mereka masing-masing, apakah mereka menginginkan perundingan terus berlanjut atau tidak,” kata Brahimi kepada pers, usai pembicaraan putaran kedua Genewa II berakhir tanpa hasil, Sabtu (15/2).

Brahimi juga meminta ma’af kepada rakyat Suriah atas kegagalan pembicaraan tersebut.

“Saya meminta ma’af kepada rakyat Suriah bahwa harapan mereka sangatlah besar sesuatu bakal terjadi di sini… Saya meminta ma’af pada mereka bahwa selama 2 putaran pembicaraan di sini kami tidak banyak meraih kemajuan,” tambah Brahimi.

Sejauh ini belum ada kepastian apakah pembicaraan putaran selanjutkan akan dilanjutkan mengingat kedua pihak (pemerintah dan oposisi Suriah) masih kukuh pada pendirian masing-masing. Delegasi pemerintah bersikukuh bahwa masalah terorisme harus menjadi prioritas pertama, sedangkan delegasi oposisi berkukuh perundingan harus difokuskan pada pembentukan lembaga transisi serta pengunduran diri Presiden Bashar al Assad.

Dan di tengah ketidak pastian tersebut, retorika-retorika “perang” justru dikumandangkan negara-negara barat. Selain pemerintah Inggris dan Perancis yang secara bersamaan menyalahkan pemerintah Suriah telah menjadi penyebab terjadinya kebuntuan, Presiden Amerika Barack Obama bahkan mengeluarkan ancamannya kepada pemerintah Suriah.

Usai mengadakan pembicaraan dengan Raja Yordania California, hari Jumat (14/2) yang salah satunya adalah tentang Suriah, Obama mengatakan:

“Kami menginginkan adanya transisi politik di sana (Suriah). Ada beberapa tahapan yang akan dilakukan untuk memberikan tekanan lebih terhadap rezim Al Assad,” kata Obama.

Meski tidak menyebutkan langkah tersebut adalah intervensi militer, para diplomat, inteligen dan analis politik di kawasan sudah mengetahui, Amerika telah cukup lama mempersiapkan campur tangan militer, langsung ataupun tidak.

Berbagai laporan menyebutkan bahwa Amerika secara diam-diam telah melatih dan mempersenjatai para pemberontak di wilayah perbatasan Yordania dan menyusupkannya ke Suriah.

Laporan-laporan juga menyebutkan, dalam beberapa bulan terakhir pengiriman senjata dari Amerika untuk para pemberontak Suriah di Yordania mengalami peningkatan pesat. Ditambah kabar-kabar lainnya yang menyebutkan bahwa Arab Saudi telah mengirimkan rudal-rudal anti-pesawat kepada para pemberontak untuk diselundupkan ke Suriah melalui Yordania.

Itu semua di luar bantuan yang dijanjikan Obama kepada Raja Yordania senilai $1 miliar, atas keterlibatannya membantu Amerika dalam masalah Suriah.

Tidak lama setelah perundingan putaran pertama Genewa II mengalami kebuntuan tgl 1 Februari lalu, pemberontak-pemberontak mengatakan bahwa Amerika telah meningkatkan bantuan langsungnya kepada para komandan pemberontak di Yordania dengan satu tujuan, meningkatkan tekanan kepada pemerintahan Bashar al Assad.

“Dari sekarang hingga putaran berikutnya dalam perundingan di Genewa, Assad akan merasakan tekanan yang lebih besar yang diberikan kekuatan oposisi,” kata seorang komandan pemberontak.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL