ukkraineLiputanIslam.com — Militer Ukriana mengalami pukulan keras hari Kamis lalu (29/5) setelah sebuah helikopter militer Mi-8 mereka ditembak jatuh oleh kelompok separatis dengan rudal jinjing di dekat kota Slovyansk. Serangan ini menewaskan 14 tentara Ukraina, termasuk seorang perwira tinggi Ukraina.

Serangan tunggal yang mematikan ini, sebagaimana serangan sebelumnya oleh kelompok separatis yang menewaskan 16 tentara Ukraina di sebuah pos penjagaan, mengindikasikan betapa seriusnya resiko yang dihadapi militer Ukraina dalam upayanya merebut kembali kendali atas wilayah-wilayah di Ukraina timur yang membelot.

Setidaknya sudah ada 2 provinsi di Ukriana timur yang membelot, Donetsk dan Luhansk, dan potensi pembelotan akan semakin meluas di seluruh kawasan Ukraina timur yang sebagian besar penduduknya berbahasa Rusia, jika kedua provinsi tersebut tidak segera bisa dikuasai kembali.

Slovyansk, kota dengan penduduk berjumlah 120.000 jiwa, telah menjadi basis perjuangan kelompok separatis dan ajang perang paling sengit antara militer Ukraina dengan milisi separatis. Sudah berminggu-minggu kota ini dikepung oleh militer Ukraina. Namun meski memiliki keunggulan militer, militer Ukraina sangat berhati-hati untuk melakukan serangan habis-habisan ke tengah kota, karena yang dihadapi mereka adalah perang gerilya kota yang mereka sadari betul, tidak terlalu mereka kuasai.

“Sungguh sangat sulit melawan para gerilyawan. Anda tidak akan bisa menghancurkan mereka. Mereka bukan tentara reguler. Ini masalah klasik yang juga dihadapi pasukan Amerika di Vietnam dan Rusia di Chechnya,” kata Igor Sutyagin, seorang peneliti dari London-based Royal United Services Institute, tentang situasi yang dihadapi militer Ukraina.

Kalau tentara yang jauh lebih profesional dari Amerika dan Rusia saja kewalahan menghadapi perang gerilya, kesulitan lebih besar tentu saja dihadapi oleh militer Ukraina. Sebagian besar personil mereka adalah rekrutan baru, karena rezim di Kiev tidak terlalu percaya kepada tentara regulernya yang terbukti tidak terlalu antusias menyambut perintah operasi militer di Ukraina timur.

Dalam awal-awal operasi militer, terlihat jelas para tentara reguler Ukraina menolak melakukan tindakan militer terhadap kota-kota yang membelot. Setelah mencapai pinggiran kota dan penduduk lokal mencegat konvoi militer, konvoi itu pun berbalik arah, atau berhenti dengan sebagian personil militernya bercengkrama dengan penduduk. Sebagian dari mereka bahkan dengan sukarela menyerahkan kendaraan militernya kepada penduduk.

Bahkan ketika perintah lebih tegas diberikan untuk melakukan serangan, komunikasi dan koordinasi menjadi masalahnya. Insiden salah tembak di dekat kota Volnovakha tanggal 23 Mei lalu membuktikan hal itu. Menyangka sebuah pos penjagaan telah dikuasai pemberontak, helikopter-helikopter serbu Ukraina pun menembaki pos itu beserta personilnya yang tengah menghadapi serangan pemberontak. Akibatnya sejumlah personil militer Ukraina pun tewas.

Maka, jumlah personil menjadi masalah serius yang dihadapi militer Ukraina. Pada hari Kamis lalu, Menhan Mykhailo Koval bahkan mengumumkan tidak ada rotasi pasukan yang beroperasi di Ukraina timur karena masalah personil yang kurang.

Namun masalah serius juga dihadapi para pemberontak, yaitu persatuan. Pada hari Kamis (29/5) milisi Vostok Battalion yang berasal dari Kaukasus utara, mengepung markas separatis di kota Donetsk. Aksi tersebut dipicu oleh aksi penjarahan yang dilakukan pemberontak atas supermarket di kawasan bandara internasional Donetsk, hari Minggu (25/5), ketika milisi bertempur mati-matian melawan serangan militer Ukraina yang menggunakan senjata berat, helikopter serbu dan pesawat tempur. Banyak anggota Vostok Battalion yang tewas dalam pertempuran itu.

Aksi pengepungan markas separatis di Donetsk berakhir setelah Vostok Battalion berhasil merebut kembali barang-barang jarahan dan membolduser barikade yang dibangun milisi separatis di seputar gedung.

Presiden terpilih, jutawan Petro Poroshenko, telah mengumumkan akan berusaha mengakhiri krisis di Ukraina timur dengan berunding dengan kelompok-kelompok separatis setelah dirinya dilantik tanggal 7 Juni mendatang. Namun ia juga akan “menghukum” para separatis yang mengangkat senjata.

Terdengar positif, namun masih menyimpan teka-teki besar. Bagaimana ia akan memisahkan kelompok separatis dengan milisi bersenjatanya?

Sampai saat ini konflik di Ukraina timur masih sekedar konflik terbatas. Dua pemain utama dalam konflik ini, Rusia dan Ukraina, masih berusaha menahan diri agar konflik tidak meluas dan menjadi tidak terkendali. Namun Poroshenko juga pasti tidak akan mau kehilangan muka dengan kegagalan mengendalikan wilayah-wilayah yang membelot. Jika perundingan gagal, cepat atau lambat, pada akhirnya ia akan mengerahkan militernyanya habis-habisan.

Dan pada saat itu kekhawatiran konflik menjadi tidak terkendali pun terjadi. Tidak saja pasukan reguler Rusia yang terlibat, tapi juga milisi Chenchya sekutu Rusia yang akan melibatkan diri membantu para separatis. Sebaliknya “mujahidin-mujahin” takfiri dari Arab, Chechnya hingga Amerika akan bahu-membahu dengan kelompok neo-Nazi Right Sector dan tentara bayaran Blackwater membantu regim bentukan NATO-AS.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL