tijus sawahBeijing, LiputanIslam.com — Pemerintah Cina telah 5 dekade melakukan program pembasmian tikus sawah yang dipercaya telah menginspirasi munculnya tokoh animasi asal Jepang, Pokemon. Namun program itu kini juga mendapatkan penolakan para ilmuan yang menganggap tikus sawah atau tikus tanah sebagai mahluk yang tidak merugikan.

Seperti dilaporkan Russia Today, Senin (5/1), para peneliti dari Arizona State University mengecam program pembasmian tikus sawah sebagai “merusak kesuburan tanah”. Sebaliknya, tanah yang dihuni oleh tikus-tikus sawah bisa menghindarkan banjir.

Pemerintah Cina telah memulai program pembasmian tikus sawah pada tahun 1958. Binatang ini dianggap sebagai hama yang tidak saja merusak tanaman juga merusak tanah di bawahnya.

Dalam penelitiannya, tim Arizona State University yang dipimpin Maxwell Wilson dan Andrew Smith mengunjungi area-area dimana tikus tanah berhabitat dan area-area dimana tikus sawah telah dibasmi. Mereka menemukan bahwa di area yang dihuni oleh tikus sawah terjadi penyerapan air yang tinggi sehingga bisa menghambat terjadinya banjir.

Atas dasar temuan itu, para ilmuan itu mengklaim bahwa tikus tanah adalah “insinyur ekosistem” dan bukannya hama. Selain itu studi juga menemukan dampak negatif penggunaan racun dalam pembasmian tikus.

Para peneliti juga menemukan data bahwa di area-area yang banyak dihuni oleh tikus tanah, tingkat serangan beruang terhadap manusia relatif kecil dibandingkan di area-area yang tidak terdapat tikus sawah. Lubang-lubang galian para tikus tanah juga dianggap bisa menjadi tempat tinggal burung-burung dan kadal yang populasinya menurun di daerah yang tidak dihuni tikus tanah.

“Kami mendesak agar kebijakan pembasmian tikus tanah untuk dipertimbangkan kembali,” tulis penelitian itu.

Atas pertimbangan ilmiah pemerintah Mongolia telah menghentikan program pembasmian tikus tanah. Namun pemerintah Cina tetap meneruskannya. Pada tahun ini saja telah direncanakan untuk melakukan pembersihan di area seluas 31.000 kilimeter persegi.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*