prof MulyadiJakarta, LiputanIslam.com–Kasus spanduk “Tuhan Membusuk” yang dibuat oleh Mahasiswa Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Ampel Surabaya masih terus bergulir. Front Pembela Islam (FPI) Daerah Jawa Timur telah melaporkan UIN Sunan Ampel Surabaya ke Kepolisian Daerah Jawa Timur.

“Kasus ini telah menistakan agama, lebih parah dari ISIS (Islamic State of Iraq and al-Sham),” kata Sekretaris Jenderal FPI Jawa Timur Khoiruddin seusai melapor ke Polda Jawa Timur, Selasa, 2 September 2014.

Berbagai tanggapan dari para pengamat muncul atas kasus ini. Prof Dr. Mulyadhi Kartanegara, Guru besar filsafat Fakultas Ushuluddin UIN Jakarta, dalam akun resmi facebooknya menulis,

“Tuhan Membusuk”. Itulah bunyi spanduk yang dipasang dalam Ospek Fakultas Ushuluddin UIN Surabaya. Dan seperti telah kita ketahui bersama telah menuai kontroversi yang memanas. Terus terang saya tidak bisa “membaca pikiraan” orang yang menulisnya, dan juga maksud yang tersembunyi di baliknya. Tapi ungkapan seperti itu telah mengingatkan saya pada ungkapan serupa, bahkan lebih parah lagi dari Nietsche: “Tuhan telah mati,” (God is Dead.) Bagi kita yang masih waras dan percaya pada Tuhan, mana mungkin Tuhan sejati kita akan mati atau bahkan membusuk. Yang lain boleh mati dan membusuk, tapi Dia sang Pencipta alam semesta tidak boleh. Jadi hanya orang yang pendek pikirannya yang akan percaya pada ungkapan-ungkapan bombastis seperti itu, dan ga mungkin iman kita akan runtuh hanya gara-gara ungkapan seperti itu.

Tapi kalau kita tilik lebih dalam lagi, barangkali tuhan yang dimaksud di sini adalah Tuhan sebagai konsep. Saya pernah membedakan antara Tuhan ontologis dan epistemologis. Secara ontologis, kata ini merujuk pada Tuhan yang sebenarnya, Tuhan pencipta alam dan manusia. Ini adalah Tuhan yang abadi, yang tidak akan pernah mati apa lagi membusuk. Tapi tuhan secara epistemologis adalah Tuhan dalam bentuk konsep, yakni Tuhan yang kita konsepsikan. Nah Tuhan inilah yang bisa mengalami perubahan dan beragam, yang boleh benar dan boleh keliru. Tuhan yang seperti inilah yang bisa hidup dan bisa mati, bisa terus subur ataupun layu, yang bisa segar terus atau bisa juga membusuk. Tuhan yang seperti inilah yang dikatakan oleh Nietsche telah mati dalam diri dan kehidupannya. Ketika kita tidak lagi merasakan kehadiran Tuhan dalam hati kita, ketika kita tak lagi peduli akan perintah dan larangan-Nya, ketika itulah kita bisa mengatakan bahwa Tuhan telah mati dari hati dan hidup kita.. Tapi Tuhan yang sejati, Tuhan ontologis tak akan pernah mati, layu ataupun membusuk.

Nah semoga tulisan ini bisa sedikit meredup ketegangan yang ada atas terpampangnya spanduk yang bertulisan Tuhan telah membusuk. Saran saya janganlah membuat tulisan, spanduk, palakat yang kontroversial seperti itu, karena boleh jadi itu malah negatif dan kontraprodukdtif. wallahu a’lam. semoga bermanfaat.

Sementara itu, Ketua Dewan Mahasiswa Fakultas (Dema F), Rahmat mengatakan, ”Tuhan Membusuk’ yang dimaksud dalam tema Ospek Mahasiswa Baru 2014 yang digelar fakultasnya, bukan Tuhan Zat Yang Esa, melainkan Tuhan-Tuhan yang tumbuh dalam diri manusia tanpa sadar menimbulkan kemusrikan (Musrik Mutasyabihat). Tuhan Membusuk yang dimaksud para senior mahasiswa di Fakultas Ushuluddin dan Filsafat ini, adalah kebenaran-kebenaran yang lahir dalam diri manusia, yang kemudian menjelma sebagai Sang Pengadil.

“Padahal hakim sejati adalah Tuhan Zat Yang Esa. Manusia memiliki sifat-sifat Ketuhanan, yang kemudian menjadikan manusia menjadi orang yang paling benar dari kebenaran-kebenaran yang lain. Menjadi sang pembela agama atas nama Tuhan Azzawajallah. Kebenaran yang lahir dalam diri manusia menjadi disakralkan untuk kepentingan-kepentingan politik,” paparnya, seperti dikutip merdeka.com.

Munculnya tema ini adalah respon atas realitas yang terjadi saat ini, antara lain munculnya Islam radikal, Negara Islam Iraq dan Syiria (ISIS), dan kejahatan-kejahatan yang terjadi tanpa mengindahkan hukum Tuhan Zat Yang Esa.

Dekan Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Dr Muhid M Ag mengatakan secara institusi dia minta maaf kepada semua pihak yang merespons secara sepihak masalah tersebut. Meski demikian dia meminta kepada masyarakat untuk memahami secara luas bunyi spanduk itu.

“Harus dimaknai secara kontekstual dan menyeluruh, supaya tidak salah paham,” kata Muhid, seperti dikutip tempo.co.(dw)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL