Minneapolis, LiputanIslam.com — Korea utara mulai banyak memproduksi opium (getah bahan baku narkotika) sebagai usaha untuk menopang finansial negara setelah ekspor batubara ke Cina dihentikan. Jurnalis Whitney Webb dalam website Mintpressnews.com mencatat, produksi ini dapat menjadi alasan CIA untuk menyerang Korea Utara.

Webb menulis, sebelum Korea aktif momproduksi opium, Taliban merupakan produsen terbesar candu tersebut. Beberapa bulan sebelum AS (CIA) menggulingkan kelompok itu dengan klaim “perang melawan terorisme”, Taliban mengakhiri perdagangan opium besar-besaran setelah pemimpinnya menyatakan bahan tersebut tidak sesuai dengan ajaran Islam.

Lebih dari satu dekade setelah penggulingan, AS beralih memantau dan menguasai ladang opium di Afghanistan. Jumlah tanaman ini meningkat terus setiap tahun, dan kini memproduksi 90%  heroin di dunia.

Webb mencatat, peningkatan dramatis produksi opium di Afghanistan mengingatkan pada tindakan agresif yang baru-baru ini dilakukan AS terhadap Korea Utara, yang merupakan kompetitor opium terbesar Afghanistan.

Setelah Presiden Korut Kim Jong-un mengambil alih kekuasaan pada tahun 2011, produksi opium negara ini semakin menurun. Namun setelah Cina menolak impor batubara Korea Utara karena kasus uji coba nuklir, negara ini melejitkan produksi opiumnya. Menurut kantor berita Chosun llbo, Korut menghasilkan sekitar 40 ton opium setiap tahunnya – sebanding dengan industri opium di Pakistan. Sebagian besar bahan ini diselundupkan ke Cina.

Webb menulis, banyak pihak yang berspekulasi bahwa kembalinya aktivitas produksi opium di Korea Utara telah menarik perhatian CIA, karena badan intelijen ini memiliki sejarah melibatkan diri dalam perdagangan opium di dunia.

Menurut Webb, jika sekarang Korea Utara menjadi target invasi AS seperti Afghanistan dahulu, ladang opium negara itu mungkin juga akan dikuasai oleh militer AS. (AL/Mintpressnews)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL