presiden nigeriaAbuja, LiputanIslam.com — Setelah menjadi isu politik yang “liar”, akhirnya Presiden Nigeria Goodluck Jonathan bertemu dengan keluarga korban penculikan kelompok teroris Boko Haram di ibukota Abuja. Demikian laporan BBC, Selasa (22/7).

Lebih dari 150 orang keluarga korban penculikan di kota Chibok, Provinsi Borno, mengikuti pertemuan setelah pemerintah mencharter pesawat untuk membawa mereka ke ibukota.

Presiden telah mendapat kritikan tajam dari publik, termasuk aktifis internasional karena dianggap tidak  berempati terhadap korban penculikan yang telah berlangsung selama 100 hari.

Lebih dari 200 pelajar putri diculik oleh kelompok Boko Haram di kota Chibok, pertengahan April lalu. Militer Nigeria mengklaim telah mengetahui keberadaan korban penculikan tersebut, namun tidak juga melakukan operasi pembebasan karena khawatir dengan keselamatan mereka. Sebaliknya, setelah peristiwa Boko Haram terus-menerus melakukan aksi-aksi kekerasan yang telah menelan korban ribuan orang sejak tahun 2009.

Assoiated Press melaporkan bahwa sebanyak 11 orang tua korban penculikan telah meninggal dunia sejak penculikan tersebut. Beberapa negara seperti AS, Inggris, Perancis, Cina hingga Israel telah memberikan bantuan pencarian korban penculikan tersebut, namun sejauh ini tidak memberikan hasil positif.

Beberapa waktu lalu tercapai kesepakatan antara Boko Haram dengan pemerintah untuk membebaskan 100 sandera dengan anggota Boko Haram yang ditahan, namun pemerintah membatalkan kesepakatan tersebut secara tiba-tiba.

Para pelajar putri tersebut disendera di tengah-tengah hutan Sambisa di dekat perbatasan Kamerun.

Sebanyak 177 orang, termasuk 51 pelajar putri yang berhasil menyelamatkan diri dari penculikan, bertemu dengan Presiden Jonathan di istana kepresidenan. Sebelumnya mereka melakukan doa bersama sebelum masuk ke kediaman Presiden.

Dalam pertemuan itu Presiden Jonathan didamping oleh ketua parlemen David Mark dan Gubernur Borno Kashim Shettima. Namun tidak ada laporan lebih rinci tentang hasil pertemuan tersebut.

Minggu lalu Jonathan sepakat untuk bertemu dengan 12 orang tua korban penculikan dan 5 pelajar yang selamat, di bawah perantaraan aktifis perempuan asal Pakistan Malala Yousafzai yang mengatasnamakan diri dari kelompok aktifis #BringBackOurGirls. Namun pertemuan dibatalkan secara tiba-tiba oleh keluarga korban.

Presiden Jonathan yang kecewa, menuduh #BringBackOurGirls, sebuah gerakan internasional pembebasan korban penculikan Boko Haram, sebagai telah bertindak politis dengan membatalkan pertemuan tersebut.

7 orang tua korban penculikan Boko Haram telah tewas oleh serangan Boko Haram atas Desa Kautakari, Chibok, bulan ini. Demikian laporan Associated Press baru-baru ini. 4 orang lainnya tewas karena penyakit-penyakit yang dipicu oleh peristiwa penculikan tersebut.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL