Sekilas Tentang Joko WidodoJakarta, LiputanIslam.com –“Suro diro janingrat lebur dening pangastuti,” demikian bunyi status Presiden Republik Indonesia Joko Widodo di akun Facebook-nya hari ini, Minggu, 25 Januari 2015. Dari keterangan berbagai sumber, kalimat tersebut merupakan sebuah filsafat  yang berasal dari daerah Jawa, dan sering digunakan saat pementasan ketoprak atau wayang.

Suro diro jayaningrat, lebur dening pangastuti, dalam bahasa Jawa Kuno sering disebut Sura sudira jayanikang rat, swuh brastha tekaping ulah dharmastuti. Berikut ini adalah arti per kata, yang dikutip dari blog Wikisopo;

Ulah pakarti luhur  adalah sikap dan tindak perbuatan yang mengutamakan berlakunya nilai-nilai kemanusiaan yang luhur dan beradab guna menuju ke arah terciptanya suatu masyarakat sejahtera lahir maupun batin, sebagai yang dimaksudkan dengan istilah pangastuti ataupun dharmastuti.

Pangastuti/dharmastuti adalah nilai-nilai filsafat timur yang pada hakekatnya sudah menjelma menjadi tata nilai kehidupan, dimana setiap kejahatan pasti akan dapat dihancurkan oleh kebajikan, oleh ulah pakarti yang baik, oleh berlakunya nilai-nilai keadilan dan kebenaran.

Suro adalah keberanian. Dalam diri manusia, pastilah mempunyai sifat berani. Entah itu berani karena benar, atau berani karena hal lainnya. Keberanian itu bermanfaat hanya jika berlandaskan atas kebenaran. Tetapi sebaliknya,  jika berlaku berani dalam ketidak-benaran, maka keberanian itu menjadi tercela.

Diro adalah kekuatan. Manusia mempunyai kekuatan yang sangat luar biasa. Apalagi bila dalam keadaan terdesak maka kekuatan yang akan timbul bisa lebih besar lagi dari biasanya. Akan tetapi, sekarang ini banyak manusia yang hanya mengandalkan kekuatannya sehingga menimbulkan kerusakan dimana-mana. Hal ini nantinya akan berdampak kurang baik bagi siapapun juga termasuk yang menggunakan kekuatan secara berlebihan.

Joyo adalah kejayaan. Sebagian dari kita mungkin pernah merasakan bagaimana rasanya apabila kita selalu menjadi yang terdepan, kita selalu menjadi yang terbaik diantara yang lainnya. Nantinya apabila ini menjadi berlebihan maka kita akan menjadi sombong, pongah, dan menjadi manusia yang tidak ingin kalah. Bukankah mengalah tidak selamanya kalah?

Jayaningrat adalah bergelimang dengan kenikmatan duniawi. Ningrat disini mungkin bisa diartikan bahwa kita berkecukupan namun itu tidak menjadikan kita sebagai manusia yang rendah hati tetapi malah menjadi takabur akan kemewahan yang kita miliki sehingga melupakan yang lainnya.

Lebur adalah hancur atau musnah. Lebur artinya dilebur atau dimusnahkan atau dihancurkan. Ini mempunyai arti sesuatu yang nantinya akan dihancurkan.

Dening artinya dengan.

Sehingga arti dari keseluruhan kalimat suro diro joyoningrat, lebur dening pangastuti adalah; semua keberanian, kekuatan, kejayaan, dan kemewahan yang ada di dalam diri manusia yang menimbulkan kerusakan, ketakaburan, kelicikan dan angkara murka — akan dikalahkan dan dihancurkan oleh kebijaksanaan, kasih sayang, dan kebaikan yang ada di sisi lain dari manusia itu sendiri.

Mungkinkah status Jokowi ini, memiliki keterkaitan dengan kisruh KPK dan Polri yang kian memanas? (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL