London, LiputanIslam.com–Pendiri WikiLeaks, Julian Assange, semakin mendekati pengusiran dari kantor kedutaan besar Ekuador di London.

Pasalnya, baru-baru ini Presiden Ekuador menyatakan sang pelapor pelanggaran (whistleblower) ini pada akhirnya harus meninggalkan kedubes negaranya.

“Ya, tentu saja kepergiannya harus dilakukan dengan dialog,” kata Presiden Lenin Moreno pada Jumat (27/7/18) kepada para wartawan mengenai Assange.

“Untuk seseorang yang terpenjara seperti itu dalam waktu yang lama sama saja seperti kejahatan HAM,” papar Moreno. Ia mengklaim Ekuador ingin memastikan bahwa tidak ada ancaman atas hidup Assange.

Padahal pada laporan sebelumnya, Ekuador dikabarkan ingin menyerahkan Assange ke pemerintah Inggris, di mana Inggris telah mengeluarkan perintah penahanan kepada pendiri Wikileaks itu sejak lama.

Wikileaks merupakan organisasi pelapor pelanggaran yang terkenal karena membocorkan dokumen-dokumen rahasia pemerintah dan militer Amerika. Pada tahun 2010, WikiLeaks mempublikasikan rekaman rahasia militer AS berjudul ‘Collateral Murder.’ Rekaman dari helikopter itu memperlihatkan terntara AS melakukan penembakan di Irak, dan menewaskan 12 orang, termasuk dua staf Reuters, dan melukai 2 anak.

Sejumlah aktivis dan badan HAM telah menuntut pembebasan Assange. Pada 2016, panel PBB menembukan bahwa kediaman Assange di kedubes Ekuador termasuk “penahanan sewenang-wenang”, namun tidak ada perubahan sejak itu.

Para aktivis HAM berpendapat bahwa pendiri WikiLeaks itu justru adalah “pahlawan” yang berhasil membongkar kejahatan pemerintah dan militer, dan jelas-jelas tidak layak dipenjara. (ra/rt)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*