presiden burundiBujumbura, LiputanIslam.com — Presiden Burundi Pierre Nkurunziza telah kembali ke ibukota Bujumbura, setelah sebuah upaya kudeta yang dilakukan mantan kepala inteligen hari Rabu lalu mengalami kegagalan.

Hal ini dinyatakan oleh pejabat komunikasi kepresidenan Burundi, Willy Nyamitwe, Kamis (14/5). Namun ia tidak menyebutkan keberadaan presiden karena alasan ‘keamanan’. Demikain kantor berita Press TV melaporkan, Kamis petang.

Presiden Nkurunziza tengah berada di ibukota Tanzanian, Dar es Salaam, pada saat kudeta terjadi. Ia dikabarkan mencoba kembali ke negaranya setelah mendengar adanya kudeta, namun mengalami kegagalan karena pemberontak telah menutup perbatasan dan bandara.

Pada Rabu malam terjadi tembak-menembak di ibukota antara pasukan yang loyal kepada presiden melawan pasukan pemberontak pimpinan Mayjend Godefroid Niyombare, mantan kepala inteligen yang dipecat pada bulan Februari lalu. Menteri pertahanan dikabarkan mendukung pemberontak, sedangkan kepala staff militer mendukung presiden.

Pertempuran masih berlangsung hingga hari Kamis ketika pengumuman Willy Nyamitwe itu diberikan. Pertempuran terutama berlangsung di sekitar stasiun televisi dan radio pemerintah di Bujumbura.

Radio pemerintah yang sempat berhenti mengudara karena pertempuran, akhirnya mengudara kembali setelah pasukan loyalis presiden berhasil menguasainya kembali dari tangan pemberontak.

Sejumlah laporan menyebutkan bahwa pasukan loyalis presiden kini telah menguasai istana kepresidenan, namun situasi di bandara internasional Bujumbura masih belum jelas.

Kondisi politik di Burundi memburuk sejak April lalu, setelah partai pendukung presiden, CNDD-FDD, mencalonkan Nkurunziza sebagai capres pemilu yang akan digelar 26 Juni lalu. Kelompok oposisi dan sebagian masyarakat menentang langkah itu karena dianggap melanggar konstitusi yang membatasi kekuasaan hingga 2 periode. Sedangkan CNDD-FDD berdalih presiden baru berkuasa satu periode sejak undang-undang pembatasan kekuasaan itu disyahkan. Sedangkan periode sebelumnya ia diangkat oleh parlemen.

Laporan-laporan menyebutkan 50.000 warga Burundi telah mengungsi ke negara-negara tetangga akibat konflik politik itu, sementara lebih dari 20 orang tewas.

Pada tahun 1993 Presiden Melchior Ndadaye, tokoh suku Hutu yang terpilih dalam pemilihan tewas terbunuh hanya 100 hari setelah menjabat. Ini memicu terjadinya kerusuhan rasial antara suku Hutu dan suku Tutsi yang berlangsung sampai tahun 2005.

Presiden Nkurunziza sendiri adalah mantan pemimpin milisi suku Hutu dalam perang sipil yang berlangsung selama 12 tahun itu.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL