Amnesty International supporters hold a banner in this Feb. 12, 2011 photo. (Photo by Richard Potts via Flikr)

Paris, LiputanIslam.com–Organisasi HAM Amnesty International mengecam penjualan senjata Prancis ke Arab Saudi di tengah agresi militer yang dilakukan Saudi terhadap Yaman. Amnesty juga menyatakan bahwa Paris tidak bisa lagi dipercaya atas klaimnya bahwa senjata-senjata itu tidak digunakan untuk membunuh warga sipil.

Beberapa minggu lalu, situs web investigasi Disclose membocorkan sebuah dokumen rahasia yang berisi laporan bahwa Arab Saudi menggunakan senjata dari Prancis seperti tank dan sistem rudal laser terhadap warga sipil Yaman.

Merespon banyaknya kritik atas laporan itu, Presiden Prancis Emmanuel Macron mengakui bahwa senjata dari negaranya memang digunakan dalam peperangan, tetapi hanya di dalam perbatasan Arab Saudi.

Petugas advokasi Amnesty khusus isu senjata dan keadilan internasional, Ellymer Aymeric, menilai perkataan Macron tidak lagi dapat dipercaya karena Prancis terus-menerus mengubah pernyataan mereka terkait senjata.

“Kami diberi tahu bahwa senjata itu hanya digunakan untuk tujuan pertahanan, dan tiba-tiba [mereka berkata]; ‘kami tidak pernah mengatakan tidak ada senjata Prancis yang digunakan di Yaman, kami mengatakan kami tidak memiliki bukti bahwa senjata Prancis digunakan untuk membunuh warga sipil’,” tutur Aymeric, mengutip pengakuan dari Prancis.

“Jadi, kata-kata Prancis adalah omong kosong, kita tidak bisa mempercayai apa yang mereka katakan,” lanjutnya. “Dunia kini sudah tahu bahwa senjata itu digunakan dalam pelanggaran hukum kemanusiaan dengan target sipil yang disengajakan,”

Sebagai salah satu pemasok senjata utama Arab Saudi, Paris telah menghadapi banyak tekanan untuk segera meninjau penjualannya ke Negeri Minyak itu.

Agresi Saudi di Yaman telah membuat setidaknya 10.000 nyawa melayang dan membuat sebagain besar wilayah negara ini mengalami ketidakamanan pangan.

Salah satu stategi Riyadh untuk menguasai Yaman adalah dengan menutup akses ibukota Sana’a dari pelabuhan Hudeida yang menjadi tempat masuk kebutuhan hidup bagi warga seperti makanan dan obat-obatan.

Badan PBB yang mengurusi pangan, World Food Program (WFP) memperingatkan bahwa ada 12 juta warga Yaman yang diperkirakan akan menghadapi krisis kelaparan terburuk selama 100 tahun terakhir. (ra/presstv)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*