London, LiputanIslam.com–Politisi dan penulis Inggris, George Galloway, mengecam keputusan Presiden AS Donald Trump untuk mengusir 60 diplomat Rusia dan menutup konsulat Rusia di Seattle. Galloway menyebut tindakan itu “deklarasi perang.”

Galloway membandingkan tindakan AS itu dengan negara-negara Uni Eropa. Menurutnya, negara-negara UE yang bergegas mengikuti jejak Inggris dan AS dalam merespon peracunan eks mata-mata Rusia, Sergei Skripal, hanya bertindak sebagai negara bawahan,” yaitu hanya melakukan apa yang diperintahkan.

Negara-negara Eropa telah “melakukan pengusiran satu diplomat atau 2 atau 3. Tapi pengusiran AS agaknya seperti deklarasi perang. Semua ini mengejutkan karena menurut deep state dan kelompok liberal Amerika, Presiden Trump adalah sekutu Rusia,” kata Galloway kepada RT.

Selanjutnya, ia menekankan bahwa Rusia tidak boleh berasumsi bahwa tindakan lembut dalam merespon tindakan Trump akan menciptakan pengaruh yang diinginkan.

Menurut Galloway, Inggris tidak melakukan investigasi yang serius dan objektif atas kasus peracunan Skripal dan anak perempuannya. Masih banyak pertanyaan yang tak terjawab terkait kasus ini.

“Sejauh yang saya bisa lihat, tidak ada investigasi,” katanya. “Putusan itu dinyatakan sebelum penyelidikan dimulai, dan saya pikir tidak akan ada investigasi karena hasil penyelidikan ilmiah yang serius akan menunjukkan bahwa tuduhan terhadap Rusia tidak berdasar.”

“Saya tidak percaya Rusia bertanggung jawab atas kasus ini. Dan berita baiknya adalah kebanyakan warga Inggris cenderung setuju [bahwa Rusia tidak bersalah],” imbuhnya. (ra/rt)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*