shiddiqueDhaka, LiputanIslam.com — Politisi senior Bangladesh yang telah melecehkan ibadah haji akhirnya ditangkap polisi di Dhaka. Sebelumnya ia telah menghina ibadah haji dengan menyebutnya sebagai “tipu daya bermotif ekonomi”.

Sebagaimana dilaporkan oleh BBC News, Selasa (25/11) petang, Abdul Latif Siddique ditangkap dan langsung dijebloskan ke dalam tahanan setelah polisi menolak uang jaminan yang ditawarkannya.

Seruan bagi penangkapan dirinya muncul setelah dalam sebuah pertemuan dengan warga keturunan Bangladesh di New York bulan September lalu, Siddique mengungkapkan penolakannya terhadap ibadah haji. Tidak hanya itu, ia bahkan melecehkannya dengan menyebutnya sebagai “akal-akalan bermotif ekonomi yang dibuat Nabi Muhammad”.

Sebelum penangkapan ini, Siddique telah dipecat dari jabatannya sebagai menteri telekomunikasi akibat komentarnya itu.

Komentar tersebut sontak memicu kemarahan publik, terutama kalangan konservatif Islam dan kelompok-kelompok oposisi yang menuntut penangkapan dirinya.

Setelah dipecat dari jabatannya, Siddique tidak langsung pulang ke negerinya melainkan melakukan kunjungan ke sejumlah negara dan baru kembali ke Bangladesh pada hari Minggu (23/11) setelah sebelumnya berada di India.

“2 juta orang datang ke Saudi untuk melakukan haji. Ini adalah tenaga kerja yang terbuang sia-sia. Mereka yang melakukan haji tidak melakukan produktifitas apapun,” kata Siddique dalam pertemuan dengan warga Bangladesh di New York September lalu.

“Mereka (pelaku ibadah haji) telah mengurangi ekonomi dengan menghabiskan banyak uang di luar negeri,” tambahnya.

Segera setelah pernyataan tersebut muncul di media massa, kelompok Islam konservatif Hefajat-e-Islam menyatakan dirinya sebagai “murtad”, satu status yang membahayakan diri karena berarti layak dibunuh.

Lebih dari 20 tuntutan telah diajukan terhadap dirinya atas insiden itu. Sebuah pengadilan bahkan telah mengeluarkan surat penangkapan terhadap dirinya yang mendorongnya harus menghabiskan waktu lebih banyak di luar negeri.

Kelompok-kelompok Islam garis keras telah mengeluarkan ultimatum kepada pemerintah untuk menangkapnya dalam 24 jam, tidak lama setelah ia kembali ke Bangladesh hari Minggu. Beberapa kelompok bahkan menuntutnya untuk dihukum mati.

Dalam sebuah wawancara dengan BBC di India bulan lalu Siddique menyatakan penyesalannya, namun tidak meminta ma’af kepada rakyat Bangladesh. Ia menyebut pernyataan kontroversialnya itu diberikan dalam sebuah pertemuan terbatas yang tidak resmi.

Siddique (77 tahun) turut berperang melawan Pakistan, dengan bantuan India, dalam perang kemerdekaan tahun 1971. Ia adalah pembantu terpercaya PM Sheikh Hasina, yang telah menyatakan kekecewaan atas pernyataan kontroversialnya itu.

Seorang tokoh feminis Bangladesh, Taslima Nasreen juga telah membuat marah publik Bangladesh pada tahun 1990-an akibat tulisan-tulisannya. Menghindari kemarhan publik, ia pun meninggalkan negaranya dan kini tinggal di India.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL