kru kapal sewolIncheon, LiputanIslam.com — Tim investigasi gabungan polisi dan jaksa kembali menangkap satu orang kru feri Sewol yang tenggelam pekan lalu. Dengan ditangkapnya kru ini, terhitung Selasa (22/4), polisi sudah menahan lima awak kapal Sewol karena dianggap lalai memenuhi kewajiban mereka mengevakuasi penumpang dalam keadaan darurat.

Pria bermarga Sohn, 58 tahun, berhasil diamankan oleh petugas setelah dicegah dalam upaya bunuh diri yang dilakukannya pada hari Senin kemarin (21/4), saat investigasi tengah berlangsung. Sebelumnya, empat awak sudah diamankan petugas, termasuk kapten kapal Lee Jun-seok, satu orang bermarga Kang, satu kru lain, dan satu ahli mesin.

“Sohn telah menjalani proses interogasi oleh polisi sejak usaha bunuh dirinya. Para hakim sepakat tuduhan kepada Sohn sudah cukup, seperti keempat rekannya,” kata seorang tim penyidik, seperti dikutip dari Yonhap, Selasa (22/4).

Sebuah sidang pengadilan telah dibuka pada Senin lalu di Pengadilan Negeri Gwangju, tapi pihak berwenang belum sepakat apakah akan mengeluarkan surat perintah untuk empat awak kapal itu atau tidak. Namun, diharapkan akan muncul kesepakatan malam ini.

Presiden Korea Selatan Park Geun-hye menyayangkan sikap kapten dan awaknya yang dinilai membahayakan nyawa 476 penumpang.

“Ini benar-benar tak bisa dibayangkan. Semua pihak yang terlibat dalam bencana tenggelamnya feri Sewol, termasuk pemilik, inspektur keselamatan, hingga anak buah kapal, akan diperiksa secara mendalam. Mereka akan dimintai pertanggungjawaban atas tragedi kejahatan ini,” kata Park.

Korban Tewas Sudah Melebihi 100 Orang
Sementara itu tim pencari korban tenggelamnya feri Sewol memastikan korban tewas telah mencapai 100 orang. Namun angka itu bisa bertambah dua kali lipat bila korban yang masih terperangkap telah ditemukan.

Menurut catatan penjaga pantai, jumlah korban keseluruhan 104 orang dan 198 hilang. Saat tenggelam, feri Sewol yang berbobot mati 6.826 ton itu membawa 476 penumpang, hampir sebagian besar merupakan murid sekolah yang sedang berlibur.

Dari seluruh jumlah penumpang, 174 di antaranya, termasuk kapten dan anak buah kapal, berhasil diselamatkan. Jumlah korban tewas diperkirakan bisa mencapai 300 orang. Insiden ini merupakan salah satu bencana terburuk bagi Korea Selatan dalam masa damai.

Hingga pekan ini tim penyelamat terus bertempur melawan gelombang tinggi laut untuk menemukan mayat yang terperangkap di dalam feri Sewol.

Dalam keterangannya kepada media, penjaga pantai mengatakan, untuk menemukan korban, petugas mengerahkan lebih dari 500 penyelam, 169 kapal, dan 29 pesawat terbang. Semuanya dikerahkan untuk melakukan penyelamatan di dekat Pulau Jindo.

Namun demikian, misi penyelamatan korban yang terperangkap di dalam feri terhambat oleh cuaca buruk, air keruh, dan arus yang sangat deras.

“Kami membutuhkan derek untuk mengangkat kapal (Sewol) agar dapat mengurangi kedalaman air. Itu dapat memudahkan penyelamatan. Tetapi kedalaman air mencapai 30-45 meter. Kalau toh ada yang hidup, agaknya sulit membawanya ke permukaan,” kata Hwang Jang-bok, seorang relawan penyelam yang tiba di Jindo setelah mendengar kabar kecelakaan.

Hwang menambahkan, tim penyelamat dalam air dapat tersapu arus dengan cepat di kedalaman 50 meter. Menurut dia, selain dihadapkan pada tantangan fisik, penyelam juga menghadapi masalah mental.(ca/tempo.co)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL