polisi lokalFerguson-Missouri, LiputanIslam.com — Pernyataan mengejutkan datang dari kepolisian kota Ferguson, Missouri, tentang sosok Michael Brown, korban penembakan polisi yang menimbulkan aksi kerusuhan dan menuai simpati warga Amerika. Menurut polisi, Brown adalah tersangka pelaku perampokan.

Menurut keterangan kepala polisi kota Ferguson, Thomas Jackson, sebagaimana dilaporkan BBC News, Jumat (15/8),  Michael Brown adalah satu dari 2 pelaku perampokan di sebuah toko, Sabtu (9/8) lalu, beberapa saat sebelum ditembak polisi.

Thomas Jackson juga menunjukkan gambar yang menunjukkan Brown tengah mengintimidasi penjaga toko. Brown merampas sejumlah barang dan kemudian menyerahkannya kepada tersangka kedua yang teridentifikasi sebagai Dorian Johnson yang tidak lain adalah teman Brown.

Aksi penembakan terhadap Brown kini menjadi perhatian utama warga Amerika. Selain aksi-aksi kerusuhan barnuansa rasial, berbagai aksi simpati terhadap Brown juga digelar di berbagai kota di AS. Pemerintah federal pun merasa perlu turut campur dalam penyelidikan atas insiden itu.

FBI: Polisi Terlibat 400 “Pembunuhan” Setiap Tahun

Sementara itu Badan penyidik federal AS, FBI, memperkirakan polisi negara itu terlibat dalam 400 kasus pembunuhan per-tahun. Dari jumlah itu hanya sebanyak 96 kasus yang dilaporkan oleh kepolisian daerah kepada FBI.

Demikian dilaporkan kantor berita Inggris BBC mengutip keterangan pejabat FBI, terkait dengan insiden tewasnya remaja kulit hitam yang memicu kerusuhan massal di kota Ferguson, Missouri, akhir pekan lalu.

Dari jumlah itu pula diketahui rata-rata 2 kali dalam seminggu seorang polisi kulit putih menembak mati seorang warga kulit hitam antara tahun 2006-2012. Laporan juga menunjukkan bahwa 18% dari warga kulit hitam yang ditembak itu adalah remaja di bawah 21 tahun.

Dalam kasus yang terjadi di Ferguson, Michael Brown, remaja kulit hitam yang ditembak itu berumur 18 tahun.

Sementara itu organisasi kepolisian terbesar di AS, International Association of Chiefs of Police (IACP), menyebutkan bahwa penggunaan kekerasan oleh polisi relatif kecil. Berdasar data dari Bureau of Justices Statistics tahun 2008, sebut IACP, kurang dari 2% dari 40 juta penduduk yang berurusan dengan polisi mengalami tindakan kekerasan atau ancaman kekerasan oleh polisi.

“Dalam kenyataannya, persepsi publik tentang aksi-aksi kekerasan oleh aparat kepolisian dibentuk dan dipengaruhi oleh penggambaran media massa yang tidak realistik,” tulis IACP dalam laporannya tahun 2012 lalu.

Terkain insiden yang menewaskan Michael Brown, Presiden IACP Yost Zakhary, hari Kamis (14/8) mengatakan bahwa pihaknya tetap berkomitmen untuk mengurangi penggunaan kekerasan oleh kepolisian.”

Selain IACP, media-media dan pengamat sosial-politik  independen seperti Dr David Duke dan Philip Marlowe, juga sering mengkritik laporan-laporan media massa yang tendensius dan tidak berimbang tentang kasus-kasus kekerasan warga kulit putih terhadap warga kulit hitam.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL