anti-globalizationStrasbourg, LiputanIslam.com — Pengadilan HAM Eropa (ECHR) menetapkan polisi Italia telah melakukan penyiksaan terhadap Arnaldo Cestaro, peserta demonstran dalam KTT-G8 di Genoa tahun 2001.

Arnaldo Cestaro, yang saat itu berusia 62 tahun terluka parah akibat tindakan keras polisi yang menyerang sebuah sekolah yang menjadi tempat penampungan para demonstran.

Pengadilan yang berbasis di Strasbourg itu juga mengkritik sistem hukum Italia yang gagal mencegah tindakan itu. Demikian seperti dilansir BBC News, Kamis (9/4).

Dalam peristiwa tersebut ratusan orang mengalami luka-luka ketika ribuan demonstran anti-globalisasi bentrok dengan polisi.

Cestaro tengah berada di sekolah Diaz-Pertini ketika polisi menyerbu sekolah itu untuk mencari anggota kelompok demonstran “black bloc” yang dianggap sebagai agitator aksi. Para saksi mengatakan orang-orang di dalam sekolah itu tidak melakukan perlawanan dengan bertelungkup di lantai. Namun polisi tetap memukuli mereka dengan pentungan.

Atas tindakan polisi itu, ECHR memerintahkan pemerintah Italia untuk memberikan ganti-rugi sebesar €45.000 atau sekitar Rp 635 juta kepada Cestaro. Selain itu pengadilan juga mendesak Italia untuk mencegah tindakan sejenis terulang lagi dengan menerapkan hukum yang jelas dan tegas.

Pengadilan juga akan segera mengadili beberapa kasus yang sama.

Namun hingga saat ini polisi yang menyebabkan Cestaro terluka parah tidak teridentifikasi.

Pada tahun 2012 beberapa polisi dinyatakan bersalah karena menyembunyikan bukti-bukti terkait aksi penyerangan itu. Namun beberapa tuduhan lain yang lebih serius tidak bisa ditindaklanjuti karena dianggap kadaluarsa.

Asisten Dubes Italia untuk Uni Eropa Sandro Gozi menyatakan bahwa pemerintah Italia memahami keputusan pengadilan dan akan bekerja untuk ‘menambal kekurangan’ yang ada.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL