brunei policeBandar Sri Begawan, LiputanIslam.com — Aparat keamanan Brunei menahan seorang tersangka teroris asal Indonesia anggota kelompok Jemaah Islamiyah (JI). Di bawah undang-undang keamanan internal (Internal Security Act/ISA), tersangka dapat menjalani penahanan selama 2 tahun hingga kasusnya dilimpahkan ke pengadilan.

Awaluddin Sitorus (alias Ustaz Yasin, Abu Yasar, Dani dan Daniardanalin) ditahan polisi Brunei atas sangkaan membangun jaringan teorisme di balik bisnis obat tradisional yang dilakukannya.

Pada bulan Februari, dinas inteligen Brunei, Internal Security Department (ISD), mengumumkan adanya aktifitas-aktifitas yang ditujukan untuk menjadi pintu masuk gerakan terorisme dan pembangunan pusat kegiatan terorisme di Brunei.

Rencana akhirnya, demikian klaim ISD, adalah membangun semacam pusat perlindungan dan rehabilitasi bagi para teroris sekaligus pengumpulan dana bagi kegiatan terorisme di luar negeri.

Awaluddin juga diketahui telah menjalin kontak dengan pemimpin kelompok Kumpulan Mujahidin Indonesia (KMI), satu kelompok teroris lainnya, dan membantu masuknya seorang yang dicurigai sebagai pelaku terorisme, ke Brunei awal tahun lalu.

Awaluddin mendapatkan pelatihan militer di Afghanistan pada tahun 1990-an, dan sempat ditahan oleh aparat keamanan Indonesia di Medan tahun 2000, terkait keterlibatannya atak serangan bom Natal di Medan tahun 2000.

Awaluddin juga pernah dituliskan profilnya di media Brunei Times, bulan Desember 2011. Ia memiliki keahlian di bidang ilmu kedokteran dan pengobatan belajar di Pakistan. Ia juga membuka praktik pengobatan Bekam. Tahun 1997 Awaluddin pindah ke Malaysia dan selanjutnya memulai bisnis di Brunei tahun .

ISD menahan Awaluddin sajak 21 Februari berdasar ISA, yang memungkinkan penahannya hingga 2 tahun tanpa proses pengadilan.

Kasua Awaluddin ini menyusul langkah serupa yang dilakukan pemerintah Singapura yang juga menahan tersangka teroris anggota JI bernama Masyhadi Mas Selamat, yang juga ditahan atas dasar ISA, undang-undang warisan Inggris yang masih digunakan oleh negara-negara jajahannya di Asia Tenggara.

Penahanan Awaluddin telah diketahui oleh para pejabat kedubes Indonesia di Brunei, namun polisi membatasi akses mereka terhadap Awaluddin.

Sementara itu Kepala Badan anti-Terorisme Indonesia (BNPT) Ansyaad Mbai membenarkan keterlibatan Awaluddin dalam jaringan terorisme dan keterlibatannya dalam serangan bom di Medan 14 tahun lalu.

Awaluddin dituduh membantu Hambali, Imam Samudra, dan Faiz bin Abubakar Bafana dalam serangan bom di Medan tahun 2000 yang melukai 33 orang. Ia ditangkap di Bandarlampung tahun 2003 in Bandar Lampung, Sumatra. Ia sempat menjalani proses pengadilan, namun dibebaskan tahun 2004, karena kurang bukti.(ca/khabarsoutheastasia.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL