Brazil-PetrobrasBrasilia, LiputanIslam.com — Polisi Brazil menggerebek dan menangkap 18 pejabat BUMN migas Petrobras atas dugaan keterlibatan praktik korupsi. Lebih dari 300 polisi dan 50 auditor perpajakan terlibat dalam operasi penangkapan yang berlangsung di 5 negara bagian itu, termasuk di ibukota Brasilia.

Sebagaimana dilaporkan Russia Today, Sabtu (15/11), polisi juga melakukan 11 penggerebegan terhadap perusahaan-perusahaan raksasa Brazil lainnya, termasuk perusahaan-perusahaan konstruksi.

Selain polisi Brazil, Petrobras juga tengah diselidiki oleh otoritas AS.

Petrobras merupakan salah satu perusahaan migas terbesar di dunia, namun dengan kinerja yang paling buruk. Cakupan kerjanya meliputi Amerika Selatan, Asia, Afrika dan Timur Tengah.

Dalam beberapa bulan terakhir, kalangan internal Petrobras dan publik Brazil telah dilanda keguncangan akibat pengakuan mantan CEO perusahaan itu, Paulo Roberto Costa, yang telah memberikan sejumlah besar komisi kepada sejumlah politisi dan pejabat tinggi Brazil untuk mengamankan kepentingan bisnisnya. Baik Costa maupun sebagian besar politisi dan pejabat itu dikenal dekat dengan Presiden Dilma Rousseff.

Costa, yang ditangkap pada bulan Maret lalu, mengakui bahwa divisi penyulingan Petrobras telah menyisihkan sejumlah uang untuk para pejabat dan politisi, terutama dari partai pengausa Partai Pekerja.

Operasi penggerebagan yang diberi kode “Car Wash” itu berlangsung di kota-kota Parana, Sao Paulo, Rio de Janeiro, Minas Gerais, Pernambuco, dan Brasilia. Polisi menyebut telah mengamankan $270 juta dari para tersangka yang ditangkap.

Di antara yang ditangkap itu disebut-sebut adalah seorang mantan Direktur Petrobras.

Akibat penyelidikan dan penangkapan-penangkapan yang melibatkannya, Petrobras mengumumkan pembatalan pengumuman laporan keuangan yang seharusnya dilakukan hari Jumat (14/11). Media-media Brazil menyebut perusahaan konsultan akuntansi publik PriceWaterhouseCoopers menolak menandatangani laporan keuangan.

Terpengaruh oleh pembatalan laporan keuangan dan penangkapan-penangkapan itu, saham perusahaan pun merosot 5%, Jumat kemarin. Analis setempat menyebut ini adalah periode terburuk dalam Petrobras.

Namun hal ini juga berdampak buruk bagi pemerintahan Dilma Rousseff. Dilma memimpin Petrobras pada tahun 2003 sebelum mengundurkan diri karena mencalokan diri sebagai presiden tahun 2010. Kaitan Rousseff dan Petrobras ini menjadi pembicaraan publik menjelang pilpres bulan lalu yang dimenangkapn Dilma dengan susah payah.

Rousseff telah mengakui adanya kesalahan pada Petrobras dan berjanji akan membayarkan kembali kerugian kepada publik. Namun bagaimana ia mewujudkan kembali kepercaan publik, akan menjadi perhatian publik dalam pemerintahan ini.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL