polandiaWarsawa, LiputanIslam.com — Pemerintah Polandia memutuskan untuk memindahkan ribuan pasukan di perbatasan barat negeri itu ke perbatasan timur. Polandia menyebutkan faktor “krisis keamanan terbesar sejak Perang Dingin” sebagai alasan dilakukannya langkah tersebut.

“Situasi geopolitik telah berubah, kita menghadapi krisis keamanan terbesar sajak Perang Dingin dan kita harus mengambil sikap atas situasi itu,” kata Menhan Polandia Tomasz Siemoniak kepada Associated Press sebagaimana dikutip Russia Today, Selasa (28/10).

Ia menyebutkan bahwa jumlah pasukan yang ditempatkan di perbatasan timur akan bertambah 2 kali lipat dalam 2 tahun, demikian juga peralatan tempur mereka. Mereka ditempatkan di 3 pangkalan.

Menurut Menhan Polandia, langkah tersebut bukan tindakan yang radikal, melainkan hanya tindakan perlindungan akibat ancaman oleh negara tetangga yang terlibat dalam konflik Ukraina.

Meski tidak menyebutkan nama negara yang dianggap sebagai ancaman itu, jelas maksudnya adalah Rusia.

Selama ini sebagian besar pasukan Polandia berada di perbatasan barat dengan negara-negara Eropa barat. Hal ini akibat Polandia belum melakukan perubahan struktur militernya yang merupakan warisan Pakta Warsawa dimana Polandia bermusuhan dengan negara-negara NATO.

Polandia juga tengah melakukan modernisasi militernya, terutama yang berada di wilayah timur, di antaranya dengan melakukan tambahan peralatan-peralatan perang modern pada tahun 2016.

“Hari ini, sayap timur adalah yang krusial. Kami akan menentukan detilnya, kami akan menjaga dan mengembangkan apa yang kami miliki. Saya melihat infrastruktur di sini. Sejujurnya, sudah tampak ketinggalan jaman. Maka kami akan meningkatkannya,” kata Siemoniak dalam sebuah kunjungan di pangkalan militer di Polandia timur, tanggal 23 Oktober lalu.

Menurut laporan media Polandia, pangkalan militer Siedlce terancam ditutup beberapa tahun lalu, namun kini pemerintah justru berniat untuk memperkuatnya. Pangkalan militer lainnya di perbatasan timur adalah di Chelm dan Suwalki.

Pada bulan April lalu Polandia meminta NATO menempatkan 10.000 pasukannya secara permanen di dekat perbatasan timur di tengah-tengah kabar Rusia telah menempatkan sejumlah besar pasukan di perbatasan Ukraina.

Selama ini NATO tidak menanggapi langsung permintaan itu. Namun mantan Sekjen NATO Anders Fogh pada bulan Agustus lalu mengungkapkan bahwa NATO akan menempatkan secara permanen pasukannya di Eropa Timur. Namun beberapa negara, termasuk Jerman menentang langkah itu karena khawatir menimbulkan ketegangan dengan Rusia.

Awal Oktober lalu Sekjen NATO yang baru, Jens Stoltenberg dalam kunjungannya ke Polandia kembali menyerukan pembentukan pasukan gerak cepat berkekuatan 4.000 pasukan sebagaimana disepakati bersama dalam KTT NATO di Wales, Inggris, bulan lalu.

Moskow mengecam pembentukan pasukan itu, menyebut NATO telah melakukan “pemikiran Perang Dingin” dan berisiko menghancurkan perjanjian tahun 1997 antara Rusia dan NATO, dimana kedua pihak saling mendeklarasikan diri tidak lagi sebagai musuh.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL