Arseniy YatsenyukKiev, LiputanIslam.com — Perdana Menteri Ukraina Arseniy Yatsenyuk mengundurkan diri dari jabatannya, Kamis petang (24/7), setelah pemerintahan koalisi yang dipimpinnya mengalami perpecahan.

Pengumuman mengejutkan itu menambah situasi Ukraina semakin “kacau”, di tengah konflik bersenjata dengan kelompok separatis Ukraina timur serta kecelakaan pesawat Malaysia Airlines MH-17 di wilayah Donetsk yang menewaskan 298 penumpang dan awaknya. Demikian laporan Russia Today, Kamis (24/7) petang.

Yatsenyuk mengatakan dalam pernyataannya bahwa ia mengundurkan diri karena “pecahnya koalisi parlemen pendukungnya serta penolakan atas rencana-rencana pemerintah” setelah beberapa partai melakukan aksi “walkout” di sidang parlemen.

Pecahnya koalisi pendukung pemerintah mengantarkan bagi dilakukannya pemilu yang dipercepat yang diperintahkan oleh Presiden Petro Poroshenko dalam 30 hari.

Di sisi lain, meski telah tercapai kesepakatan gencatan senjata di wilayah kecelakaan pesawat MH-17, pertempuran hebat terus berlangsung di berbagai tempat, termasuk di sekitar kota Donetsk, 60 km dari lokasi kecelakaan. Militer Ukraina mengakui 4 personilnya tewas dalam sehari pertempuran.

Di sisi lain beberapa negara korban kecelakaan MH-17 berusaha menempatkan pasukan pengaman di sekitar lokasi kecelakaan. PM Belanda Mark Rutte mengumumkan negaranya telah mengirim 40 polisi tak bersenjata ke lokasi kecelakaan. Sedangkan PM Australia mengecam situasi dimana lokasi kecelakaan berada di bawah kontrol separatis yang menurutnya telah melakukan penembakan terhadap pesawat MH-17.

“Di lokasi kecelakaan, sangat jelas bahwa segalanya tidak dapat terjadi kecuali atas persetujuan pemberontak bersenjata yang paling bertanggungjawab atas jatuhnya pesawat,” kata PM Australia Tony Abbott, yang kehilangan 28 warganya dalam kecelakaan itu.

Australia telah menempatkan 50 personil keamanan di London untuk setiap saat dikirimkan ke lokasi kecelakaan.

Roket dan Artileri Rusia

Pada hari Kamis (24/7) militer Ukraina menuduh Rusia telah menembakkan roket-roketnya ke wilayah pasukan pemerintah di dekat bandara Lugansk serta beberapa wilayah di Provinsi Donetsk.

Peluru-peluru mortir Rusia juga jatuh di Avdiyika di provinsi Donetsk. Demikian keterangan jubir militer Ukraina, namun tanpa memberikan perincian korban yang jatuh atas serangan-serangan itu.

Ukraina juga mengakui 2 pesawat jet tempurnya ditembak jatuh, hari Rabu (23/7). Mereka menuduh Rusia telah menembakkan rudal-rudal anti pesawat terhadap pesawat-pesawat itu.

Sementara di Washington, jubir kemenlu AS Marie Harf menyebutkan Rusia tengah merencanakan untuk mengirim roket-roket yang lebih canggih kepada para separatis Ukraina selain telah melakukan penembakan artileri terhadap pasukan Ukraina.

“Mereka telah menembakkan artileri dari wilayah Rusia terhadap militer Ukraina,” kata Harf kepada para reporter.

Sementara itu jenasah-jenasah korban kecelakaan MH-17 telah tiba di Belanda pada hari Rabu dan Kamis untuk menjalani proses identifikasi, yang menurut PM Belanda bisa berlangsung selama berbulan-bulan.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL