Pm-MalaysiaJakarta, LiputanIslam.com — Perdana Menteri Malaysia Najib Razak melempar tanggungjawab atas musibah hilangnya pesawat MH370 ke PBB.

Najib Razak, Perdana Menteri Malaysia, mengaku telah menyerahkan laporan awal hilangnya pesawat Malaysia Airlines (MAS) MH370 kepada ICAO, sebuah badan di bawah Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) yang mengurusi penerbangan sipil internasional. Apa yang dilaporkan Otoritas Malaysia baru bisa diketahui publik, pekan depan.

Seperti dikutip CNN, pada hari Jumat (25/4), laporan itu telah diserahkan ke PBB hari Kamis (24/4). Selain itu, pihak Putrajaya juga telah meminta tim penyelidik internal menjaring informasi terkait hilangnya pesawat yang membawa 239 penumpang, sejak Sabtu (8/3) tersebut.

ICAO, seperti diungkapkan Najib, telah memberikan rekomendasi keselamatan agar dilakukan pelacakan hilangnya pesawat sesuai waktu terbaru. Langkah sama pernah dilakukan ICAO pada kasus jatuhnya pesawat Air France bernomor 447, pada 2009.

Langkah Otoritas Malaysia ini dikecam keluarga penumpang sebagai langkah cuci tangan. Upaya ini, tuding Sarah Bajc, kekasih Philip Wood yang menjadi penumpang MH370, sebagai manuver politik untuk lempar tanggung jawab.

“Saya benar-benar terkejut dengan aksi lempar tanggung jawab PM (Najib). Yang dia lakukan saat diwawancarai hanya membaca transkrip yang telah disiapkan oleh seorang humas profesional,” cibir Bajc.

Pemandangan itu bukan hal baru. Selama ini pernyataan pers Najib tidak penah menyentuh hal-hal fundamental sesuai kepentingan keluarga penumpang. Menurut Sarah, pertemuan-pertemuan yang digelar antara keluarga penumpang dan Otoritas Malaysia tak lebih dari sekadar lelucon semata.

Tak mengherankan jika sikap Malaysia itu makin membuat keluarga penumpang marah. Bahkan, emosi yang ditunjukkan keluarga penumpang asal Cina disebut pakar konseling mulai mengarah ke titik berbahaya.

“Malaysia perlu melakukan komunikasi yang lebih baik dengan keluarga penumpang. Mereka harus menjawab setiap pertanyaan keluarga bukan saling lempar tanggung jawab. Saat ini, Malaysia malah memperlakukan keluarga penumpang seolah musuh,” kecam Susan.

Masih menurut Susan, jangan heran jika nantinya keluarga penumpang akan mencari informasi sendiri. Termasuk, bertanya langsung kepada pihak Boeing. Terutama, menyangkut pertanyaan yang bersifat teknis yang selama ini tak pernah dijawab oleh otoritas Malaysia.

“Boeing adalah perusahaan publik di Amerika Serikat. Dalam hal ini mereka juga harus menunjukkan tanggung jawab mereka secara legal,” tegas Bajc.

Lebih tujuh pekan sejak raib, pencarian MH370 belum juga menunjukkan titik terang. Kendati berulang kali Malaysia menegaskan akan terus mencari hilangnya pesawat rute Kuala Lumpur, Malaysia, menuju Beijing, Cina, hal itu belum memuaskan keluarga para penumpang.(ca/nefosnews)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL