pm jepangTokyo, LiputanIslam.com — Seiring kesuksesan perundingan program nuklir Iran, negara ini seolah menjadi magnet bagi kepentingan-kepentingan global untuk datang. Begitu juga dengan Jepang, dimana setelah 38 tahun, perdana menteri negara itu akan mengunjungi Iran.

Sementara itu pemerintah Cina marah setelah AS bermaksud memberikan sanksi kepada perusahaan telekomunikasi terbesar Cina karena melakukan transaksi bisnis dengan Iran. Demikian seperti laporan Press TV, hari ini (7/3).

Mengutip laporan The Nikkei, laporan itu menyebutkan bahwa pemerintah Jepang telah memberitahukan Iran bahwa Perdana Menteri Shinzo Abe akan mengunjungi Iran pada Agustus mendatang.

Abe akan menjadi perdana menteri Jepang pertama yang mengunjungi Iran setelah 38 tahun, saat Perdana Menteri Takeo Fukuda mengunjungi Iran pada bulan September 1978.

“Perdana Menteri bermaksud untuk mengambil inisiatif bagi penguatan hubungan ekonomi antara Jepang dan Iran setelah pencabutan sanksi-sanksi kepada Iran pada Januari lalu,” tulis The Nikkei dalam laporannya.

Iran adalah pasar yang menjanjikan, dan perusahaan-perusahan Jepang yang menghentikan atau mengurangi kegiatan bisnisnya di Iran karena sanksi, diharapkan akan kembali memulihkan kegiatannya. Menurut The Nikkei, para pengusaha sektor perdagangan, otomotif dan energi akan turut serta dalam kunjungan ke Iran tersebut.

“Dengan para pemimpin dunia yang semakin banyak memeluk Iran, Abe mendapat tekanan dari dalam negeri untuk segera mengunjungi Iran sebelum Jepang tertinggal dari lawan-lawan,” tambah laporan itu.

Sebelumnya Presiden Cina Xi Jinping telah mengunjungi Iran pada Januari lalu, sementara Presiden Korsel Park Geun-hye tengah mempertimbangan untuk menjadi presiden pertama Korsel yang berkunjung ke Iran.

Kepala-kepala negara Swiss, Austrian dan Azerbaijani juga telah berkunjung ke Iran, dan Perdana Menteri Turki Ahmet Davutoglu dengan 120 delegasi baru saja berkunjung ke Iran akhir pekan lalu.

Di sisi lain, Presiden Iran Hassan Rouhani telah berkunjung ke Eropa dan berhasil menandatangani perjanjian bisnis senilai $50 miliar dengan Italia dan Perancis.

Cina Marah pada Amerika karena Berbisnis dengan Iran

Sementara itu pemerintah Cina mengungkapkan kemarahan setelah pemerintah AS bermaksud akan memberikan sanksi kepada perusahaan telekomunikasi terbesar Cina ZTE Corps, karena dituduh melanggar sanksi ekonomi terhadap Iran.

Cina dan Iran adalah mitra bisnis yang dekat, terutama di sektor energi dan perdagangan. Dan Cina memainkan peran penting bagi pencabutan sanksi Iran dalam perundingan nuklir Iran bulan Januari lalu. Namun AS menganggap sanksi-sanksi yang dicabut hanya mencakup ‘sanksi-sanksi sekunder’, sedangkan ‘sanksi primer’ terkait dengan terorisme dan HAM masih berlaku.

Press TV melaporkan bahwa pemerintah AS akan melakukan pembatasan ekspor bagi ZTE, mulai Selasa (8/3). Pengumuman ini memaksa ZTE menunda transaksi di bursa saham Hongkong.

Perusahaan ini dituduh telah menandatangani kontrak tahun 2012 untuk mengirim peralatan telekomunikasi ke perusahaan telekomunikasi terbesar Iran, Telecommunication Co of Iran (TCI).

Kemenlu Cina menyatakan kemarahan atas langkah AS, menyebutnya sebagai tindakan yang salah yang bisa mengganggu hubungan bilateral kedua negara.

“Kami berharap AS menghentikan tindakan yang keliru ini dan menghindari untuk merusak hubungan dagang dan bilateral Cina-AS,” kata Jubir Kemenlu Cina Hong Lei kepada pers, di Beijing, Senin (7/3).(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL