Iraqi-Prime-Minister-Nuri-001Baghdad, LiputanIslam.com — Perdana Menteri Irak Nouri al-Maliki, hari Sabtu (15/2), melakukan inspeksi pertempuran di ibukota Provinsi Anbar, Ramadi.

Kunjungan tersebut adalah kunjungan pertama yang dipublikasikan sejak militer Irak yang didukung milisi suku-suku Sunni pro-pemerintah terlibat pertempuran sengit memperebutkan wilayah Anbar yang diduduki kelompok-kelompok militan yang terafiliasi Al Qaida, akhir tahun lalu.

Juru bicara pemerintah, Ali Mussawi, mengatakan dalam kunjungan itu Maliki bertemu dengan para pejabat lokal dan kepala-kepala suku pendukung pemerintah untuk membicarakan perkembangan pertempuran.

“Kami datang ke sini untuk menunjukkan dukungan kami kepada rakyat dan suku-suku di Anbar,” kata Mussawi mengutip perkataan Maliki di hadapan para pejabat dan kepala suku.

Inspeksi yang dilakukan Maliki di medan pertempuran mengingatkan hal serupa ketika ia melakukan inspeksi terhadap pasukannya yang terlibat pertempuran hebat dengan militan-militan Syiah pendukung ulama muda kharismatik Muqtada al Sadr, di kota Basrah tahun 2008. Muqtada al Sadr sendiri kini menjadi sekutu Maliki dalam pemerintahan.

Saat ini militan pemberontak masih menguasai sebagian wilayah kota Ramadi dan sebagian besar kota Fallujah. Ini merupakan kali pertama kalinya pemerintah kehilangan kontrol atas wilayah strategis sejak invasi Amerika tahun 2003.

Selain krisis keamanan di Anbar, pertempuran juga merembet ke kota Sulaiman Bek di Provinsi Salaheddin di utara Irak sejak Kamis (13/2). Namun media-media Irak melaporkan militer Irak berhasil merebut kembali kota tersebut dari tangan pemberontak pada hari Jumat (14/2).

Sulaiman Bek telah beberapa kali mengalami serangan oleh para pemberontak sejak tahun lalu. Pada bulan April 2013, pemberontak bahkan sempat menguasai kota itu meski hanya sebentar. Tiga bulan kemudian, militan pemberontak menembak mati 14 pengemudi truk di jalan raya di dekat kota ini.

Aksi-Aksi Kekerasan Lainnya

Dalam 2 hari terakhir, sebanyak 22 aparat keamanan Irak tewas oleh berbagai serangan terencana para pemberontak. Demikian keterangan sumber-sumber pemerintah, Sabtu (15/2).

Di Tikrit di utara Baghdad, hari Jumat (14/2), sekelompok militan teroris menyerbu rumah seorang perwira menengah polisi dan menembaknya mati setelah sebelumnya menembak mati 4 polisi penjaga rumahnya. Kelompok militan yang sama juga menembak mati 4 tentara di jalan raya kota tersebut.

Di Sulaiman Bek, seorang perwira polisi ditangkap oleh pemberontak dan ditembak mati di dalam mobilnya saat berusaha mengungsikan kerabat-kerabatnya dari pertempuran.

Di Jurf al-Sakhr di selatan Baghdad, 5 tentara tewas dalam tembak menembak dengan para pemberontak. Sedangkan di kota Baiji yang kaya minyak di utara Irak, sebuah bom menewaskan 5 polisi yang menjaga pipa-pipa minyak.

Sementara itu di kota Sharqat yang juga terletak di utara Irak, pemberontak menembak mati seorang tentara dan seorang polisi dalam serangan terpisah yang dilakukan hari Sabtu (15/2).

Pemberontak sering mentargetkan aparat keamanan yang kurang latihan dan kurang disiplin sebagai sasaran seragan.

PBB dan pemerintah negara-negara internasional telah mendesak Nouri Al Maliki untuk menghentikan operasi militer yang dilakukannya. Namun seruan tersebut diabaikan Maliki yang berkepentingan untuk memastikan keamanan menjelang pemilu yang akan digelar bulan April mendatang.(ca/press tv/afp)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL