Ibrahim MahlabKairo, LiputanIslam.com — Perdana Menteri Mesir yang baru, hari Selasa (25/2), menyerukan tekadnya untuk memerangi teroris dan berharap dapat membentuk kabinet baru dalam tiga empat hari mendatang.

“Kami akan bekerja sama untuk memulihkan keamanan dan keselamatan ke Mesir dan menghancurkan terorisme di seluruh pelosok negeri,” kata Ibrahim Mahlab dalam konferensi pers yang digelr setelah presiden sementara Adly Mansour memintanya untuk membentuk pemerintah baru.

Berbicara kepada Al Ahram setelah bertemu dengan Presiden Adly Mansour, Mahlab mengatakan bahwa ia akan segera memulai konsultasi mengenai penunjukan kabinet baru.

Sebelumnya, Perdana Menteri Hazem al Beblawi mengundurkan diri secara massal, Senin (24/2), sebagai kejutan menjelang pemilihan presiden yang kemungkinan akan membawa Menteri Pertahanan dan pemimpin militer Abdel Fattah al Sisi, berkuasa.

Selama masa pemerintahan Beblawi, negara menindak keras presiden terguling Mohammad Mursi kelompok pendukungnya Ikhwanul Muslimin hingga ratusan orang dinyatakan tewas akibat bentrokan antara aparat keamanan dan demonstran pendukung Ikhwanul Muslimin. Kelompok-kelompok HAM mengkritik keras hal itu.

Pemerintah Beblawi yang menerima miliaran dolar bantuan dari negara-negara Arab Teluk dikritik oleh para analis karena gagal untuk mengambil langkah-langkah cepat terhadap reformasi ekonomi yang terbebani oleh tagihan subsidi besar-besaran.

Mahlah adalah mantan eksekutif perusahaan Arab Contractors Company selama 11 tahun, membangun berbagai proyek konstruksi di Kairo sebelum mundur pada bulan September 2012. Mahlab juga pernah bekerja di Arab Saudi, berdasarkan CV (daftar riwayat hidup) yang didistribusikan Kementrian Perumahan Rakyat, Fasilitas Umum dan Masyarakat Perkotaan, beberapa waktu lalu.

” Saya pikir dia akan menjadi perdana menteri yang sangat praktis, tapi tentu saja itu adalah posisi yang sangat sulit mengingat masalah ekonomi dan harapan yang sangat tinggi dari masyarakat,” kata Angus Blair, ketua lembaga kajian bisnis dan ekonomi Signet, yang baru-baru ini mendengarkan Mahlab berbicara di sebuah seminar.

Mahlab menguasai bahasa Inggris dan Perancis, berasal dari Partai Nasional Demokrat yang dipimpin diktator terguling Hosni Mubarak. Ia juga menjadi anggota majelis tinggi Dewan Syura sejak tahun 2010.(ca/press tv/reuters)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL