afghanistan

Reuters/Stringer

Kabul, LiputanIslam.com — Awal tahun 2015, diawali dengan serangan mematikan di Afghanistan. Sebanyak 26 warga sipil tewas, dan 40 orang lainnya luka-luka setelah sebuah roket menghantam sebuah tempat yang sedang melangsungkan pesta pernikahan. Sebagian besar korbannya adalah wanita dan anak-anak.

“Tragedi ini terjadi di sebuah desa di distrik Sangin, lokasi ini menjadi sasaran penembakan dari tiga arah,” terang Wakil Komandan Korps 215 Afghanistan, seperti kepada Reuters, yang dilansir Russia Today, 1 Januari 2015.

“Sejauh ini yang kami ketahui adalah, tentara kami memang menembakkan roket dari tiga pos yang berbeda, tapi kami tidak mengetahui, apakah hal itu disengaja atau tidak. Kami akan melakukan penyelidikan dan memberikan sanksi bagi pelaku,” tambah dia.

Peristiwa ini sangat melukai hati penduduk setempat. Sepupu dari mempelai, Abdul Haleem, menyatakan bahwa ia kehilangan sembilan orang anaknya akibat serangan mematikan tersebut.

“Saya kehilangan sembilan anak, dan harus mengumpulkan bagian-bagian tubuh yang (yang hancur). Saya tidak tahu apakah potongan-potongan tubuh tersebut adalah anak saya, atau orang lain, “ ujar dia.

Saat peristiwa naas tersebut terjadi, ratusan tamu tengah menghadiri upacara pernikahan.

Seperti diketahui, akibat perang tak berkesudahan, tahun 2014 adalah tahun yang paling mematikan di Afghanistan. Sekitar 5.000 tentara/ polisi Afghanistan tewas, sementara kematian warga sipil jauh lebih besar.

Di Afghanistan, bercokol teroris Taliban, yang merupakan hasil karya AS di tahun 70-an, namun kini menjadi musuh yang diperangi. Kelompok ini didominasi etnis Pashtun, yang memerintah Afghanistan sejak 1996 hingga 2001. (Baca: Proyek Terorisme AS di Timur Tengah)

Taliban dibentuk oleh faksi mujahidin Afghanistan, yaitu para jihadis Islam yang menolak pendudukan Soviet di Afghanistan (1979-1989), dengan dukungan rahasia dari Central Intelligence Agency (CIA) dan ‘rekannya’ di Pakistan yaitu Inter-Services Intelligence (ISI).

Dan kini, drone AS tanpa henti menyerang Afghanistan – dengan dalih untuk memerangi Taliban. Namun yang menjadi korban terbanyak akibat serangan pesawat tak berawak adalah rakyat sipil. Akibat kekerasan ini, tidak sedikit para penduduk asli Afghanistan memilih kabur dari negaranya, dan mencari suaka ke Australia. (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*