China's tech powerhouseBeijing, LiputanIslam.com — Perusahaan pembuat peralatan komunikasi asal Cina, Huawei, terus menunjukkan kinerja yang mengagumkan di tengah-tengah kecurigaan AS bahwa perusahaan tersebut terlibat dalam kegiatan mata-mata.

Huawei baru saja melaporkan penjualan perusahaan yang mencapai $21,9 miliar semester pertama tahun ini, atau melonjak 19% dari penjualan periode yang sama tahun lalu.

Huawei berharap mendapatkan keuntungan dengan margin 18,3% dari total penjualan semester ini. Demikian laporan BBC, Senin (21/7).

Huawei awalnya adalah perusahaan pembuat peralatan jaringan telekomunikasi, namun telah berhasil melakukan diversifikasi ke sektor lain yang lebih cepat perkembangannya, seperti telpon pintar (smartphone). Kini Huawei menjadi salah satu produsen smartphone terbesar di dunia.

Cathy Meng, direktur keuangan perusahaan tersebut mengatakan bahwa perusahaannya telah berhasil “meraih pertumbuhan yang berkualitas dan berkesinambungan berkat “nama baik” perusahaan dan pertumbuhan penjualan telpon pintar global.”

Menurut data perusahaan riset bisnis IDC, Huawei telah mengapalkan 13,7 juta smartphone selama 3 bulan pertama tahun ini, menjadikan Huawei sebagai produsen ponsel pintar terbesar ketiga di dunia.

Huawei juga dianggap berhasil memperkenalkan teknologi wearable dan perlengkapan pintar Talkband tahun ini. Selain itu perusahaan juga diuntungkan dengan program pengembangan jaringan teknologi telekomunikasi generasi ke-4 (4G) yang dilakukan pemerintah.

Semua itu terjadi di bawah kecurigaan beberapa “pemain kunci” dalam bisnis teknologi informasi beberapa tahun terakhir. Pada tahun 2012, misalnya, pejabat dan politisi AS mengklaim bahwa perusahaan ini telah menjadi ancaman bagi kepentingan keamanan AS karena keterkaitannya dengan pemerintah dan militer Cina.

Salah satu faktor utama sentimen negatif tersebut adalah fakta bahwa pendiri perusahaan, Ren Zhengfei, adalah mantan anggota tentara nasional Cina (People’s Liberation Army).

Namun Huawei telah berulangkali membantah tuduhan tersebut dengan mengatakan bahwa kepemilikan perusahaan sepenuhnya dimiliki oleh pendiri dan para karyawan.

Baru-baru ini New York Times menyebutkan bahwa badan inteligen terpadu AS, National Security Agency (NSA) telah menginfiltrasi server milik Huawei. Sebagai reaksi Cina pun menuntut penjelasan dari pemerintah AS atas masalah ini.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL